~ Disadur dari dokumen milik group ~MAKE DU'A FOR ME~ yang dibuat oleh Fajar Kesumayekti ~
Bismillahirrohmannirrohiim
Assalamualaikum wr wb
Kita sudah mengetahui bahwa ketika Rasul Muhammad SAW memohon kepada Allah SWT agar mengokohkan Islam dengan Umar Bin Khattab atau Abu JAhal, Allah SWT telah memilih Umar Bin Al Khattab. tentu hanya Allah SWT sendiri lah yang mengetahui mengapa dan hanya Allah saja yang tahu. Namun dengan membaca sejarah, bagaimana kepribadian mereka, kita dapat mengambil suatu kesimpulan sehingga syaidina Umar RA yang dipilih dalam menguatkan Islam dan bukan Abu Jahal.
Berikut ini adalah sekelumit sejarah Umar Bin Al Khattab yang akan saya bagi menjadi 2 buah catatan:
MASA JAHILIYAH :
Umar adalah seorang pemuda bertubuh kekar, besar, tinggi, kulitnya putih kemerah-merahan dan agak kecoklatan dan dia seorang kidal. Langkahnya lebar, Jika berjalan beliau sangat cepat, tidak bisa ia berjalan perlahan. Beliaua seorang yang mudah sekali marah. Beliau adalah seorang yang selalu unggul dalam hampir segalanya, sajak/syair, berkuda, bergulat, bahkan minum khamar dan perempuan. Umar paling kuat dan paling banyak minum diantara kawan-kawannya, juga mengenai perempuan, banyak gadis-gadis yang tergila2 kepada Umar karena ketampanannya dan karena keperkasaannnya.
Dalam berkuda yang dapat menyaingi kepandaian pemuda Umar adalah sepupu dan sekaligus kemenakannya Zaid bin Amr, seorang pemuda yang menganut ajaran Tauhid Ibrahim, yang menjauhi penyembahan berhala dan menolak makanan dari hasil kurban untuk berhala itu.
Walau demikian, Umar bukanlah orang yang suka membanggakan diri dan tidak pernah menantang seseorang dalam mengadu kehebatan. Namun, bila seseorang merendahkannya dengan mengatakan bahwa ada seseorang lebih unggul darinya, dia akan menerima tantangannya.
Mereka bukanlah orang kaya dan tidak mempunyai khadam. Dalam suatu riwayat, ketika Umar telah menjadi Khalifah, Amr bin Al-As menjadi Gubernur masa kekhalifahan Umar untuk Mesir. Umar telah mencurigainya dan mengirim surat untuk Amr menanyakan asal usul hasil kekayaan yang dihimpunnya. Dalam surat balasannya, Amr sangat marah atas surat Umar tersebut.
Sampai ia berkata kepada Muhammad bin Maslamah (yang datang sebagai utusan Umar dalam menyampaikan suratnya) : “... Sial benar sejarah ini, yang telah membuat aku menjadi Gubernur Umar! Saya dulu melihat Umar dan ayahnya sama-sama mengenakan jubah putih berbulu kasar tipis yang tak sampai di lekuk lututnya dan memikul seikat kayu bakar, sedang Al-As bin Wa’il – (ayahnya) – memakai pakaian sutera berumbai-rumbai.”
Maka Muhammad bin Maslamah menjawab: “Sudahlah Amr! Umar lebih baik dari anda, sedang bapa anda dan bapanya sudah sama-sama dalam neraka...”
Ayah Umar, Al khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi bin Ka'b ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibu Umar, Hantamah binti Hasyim bin Al-Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Al khattab (ayah Umar) seorang yang berperangai keras dan kasar. Dengan demikian sifat ini pun dipunyai oleh Umar. Menurut sumber At-Tabari disebutkan bahwa di masa Kekhalifahannya, ketika melalui sebuah tempat yang bernama Dajnan, Umar berkata " Tiada tuhan selain Allah Yang telah memberi rezeki sekehendakNya dan kepada siapa saja yang dikehendakiNYA. Dulu aku menggembalakan untuk Khattab (ayahnya) di lembah ini dengan mengenakan jubah dari bulu. Dia kasar, payah benar aku bekerja untuk dia, dipukulnya aku kalau lengah. Ketika aku pulang di waktu sore, hanya Allah Yang Tahu.." kemudian dia bersyair...
Tidak ada apa pun yang akan cerah abadi, selain Tuhan
Harta dan anak keturunan akan binasa.
Harta Pusaka Hormuz tidak pernah sekalipun berguna
Keabadian diupayakan kaum Ad yang tak pernah kekal
Tidak juga Sulaiman,
Penguasa Angin, manusia dan jin dapat menahannya
Mana itu Raja-raja dengan berbagai hadiah
Datang dari segenap penjuru
Tersedia dalam tempat penyimpanan besar
Yang pasti suatu hari akan pergi seperti ketika datang!
Umar bin Khattab dibesarkan seperti anak2 Kuraisy, yang kemudian membedakannya dengan yang lain adalah ia sempat belajar baca-tulis, hal mana sangat jarang sekali terjadi dikalangan mereka. bahkan orang2 Arab masa itu tidak menganggap pandai baca-tulis itu adalah suatu keistimewaan, bahkan mereka menghindarinya dan menghindarkan anak2 dari belajar. Ketika Nabi diutus, hanya ada 17 orang yang pandai baca-tulis, sehingga sekarang kita mengatakan bahwa Umar termasuk istimewa diantara teman-teman sebayanya.
Umar mengawini 9 perempuan : Zainab putri Maz'un, Umm Kulsum putri Ali bin Abi Thalib, Umm Kulsum binti Jarul bin Malik, Jamilah binti Sabit, Umm Hakam putri Al-Haris, Atikah binti Zaid, Luhayyah (seorang hamba sahaya), Fukaihah (juga seorang hamba sahaya).
Dia melamar Umm Kulsum putri Abu BAkar, adik syaisatina Aisyah, namun perempuan itu menolak dengan alasan bahwa Umar hidupnya kasar dan sangat keras. Juga dia melamar Umm Aban binti Utbah bin Rabi'ah yang juga menolak dengan mengatakan bahwa dia kikir, keluar masuk rumah dengan muka merengut.
Apa yang dikatakan kedua perempuan itu, merupakan sebagian dari wataknya sejak usia muda dan kemudian tetap begitu dalam perjalanan hidup selanjutnya. Sesudah menjadi Khalifah, maka Umar berkata dalam do'a pertamanya : "Allahuma ya Allah, aku sungguh tegar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah, aku ini lemah, berilah aku kekuatan. Ya Allah, aku sungguh kikir, jadikanlah aku orang pemurah".
Mengenai apa yang disebutnya kebakhilan, karena memang ia tidak pernah kaya, dan ayahnya juga tidak pernah menjadi orang kaya. Sepanjang hidupnya ia dalam keadaan sederhana, padahal, seperti kebanyakan penduduk Mekah, ia juga berdagang. Barangkali wataknya yang keras itu yang membuatnya tidak pernah beruntung dalam perdagangan.
Dengan wataknya yang keras itu, dia tidak pernah dapat mengeluarkan air dari batu, tak pernah ia dapat mengubah tanah menjadi emas, demikian ungkapan masyarakatnya, Kuraisy. Padahal dalam perdagangan ia tak terbatas hanya pada perjalanan musim panas dan musim dingin ke Yaman dan ke Syam saja, ia bahkan pergi sampai ke Persia dan Rumawi. Tetapi dalam perjalanan itu, ia mengutamakan untuk mencerdaskan fikirannya daripada untuk mengembangkan perdagangannya.
Dalam Muruj az-Zahab al-Mas’udi menyebutkan bahwa selama dalam pelbagai perjalanan di masa Jahiliyah itu, Umar banyak menemui pemuka-pemuka Arab dan bertukar pikiran dengan mereka. Kemungkinan besar segala yang sudah dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai utusan dari pihak Kuraisy, dan luasnya pengetahuannya mengenai silsilah orang-orang Arab dan cerita-cerita rakyat masyarakat Arab serta apa yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya masa itu, itulah membuatnya lebih banyak untuk menambah ilmu daripada untuk memperoleh kekayaan.
PENDIDIKAN DAN KONSEP PIKIRANNYA di MASA JAHILIYAH :
Inilah yang membuatnya lebih percaya diri dan lebih punya rasa harga diri. Orang yang berharta selalu perlu menjaga hubungan baik dengan semua orang, untuk melindungi dan memperbesar kekayaannya. Orang yang dalam usaha perdagangan, keberhasilannya bergantung pada kelihaian serta menguasai segala seluk beluknya.
Tetapi Orang yang haus ilmu dan ingin menambah pengetahuannya, harta kekayaan tidak banyak mendapat perhatian. Sebab orang yang sudah keranjingan harta cenderung tidak memperhatikan ilmu dan lebih banyak menggantungkan diri pada masalah-masalah dunia dan tunduk pada yang lebih menguasainya. Tetapi orang yang memandang rendah dunia dan harta, akan memandang memburu ilmu dan pengetahuan lebih membanggakan diri, tingkat inilah yang ingin dicapai Umar dimasa mudanya. Rasa bangga dan percaya diri yang luar biasa itulah yang benar-benar dihayatinya.
Dalam usahanya memburu pengetahuan inilah dimasa mudanya Umar memikirkan nasib Masyarakatnya dan usaha apa yang akan dapat memperbaiki keadaan mereka. Ini juga kemudian membuatnya bangga, berkeras dan menjadi fanatik dengan pendapatnya sendiri tentang tujuan yang ingin dicapainya itu. Ia tidak mau dibantah atau didebat.
Pada masa itu, orang2 Narani dan Yahudi memandang dan menganggap penyembahan berhala seperti yang dilakukan oleh bangsa Arab adalah perbuatan yang batil, setiap orang yang berpikiran sehat harus menjauhinya, demikian juga orang yang berilmu pengetahuan. Sedangkan Orang2 Arab yang melakukan perjalanan berdagang pada musim panas ke Romawi menganggap dan menghubungkan peradaban orang2 Nasrani dan Yahudi itu lebih maju dari peradaban bangsa Arab karena agama mereka. Karena itu orang2 Arab yang mempunyai pengetahuan tidak mengakui penyembahan berhala.
Tetapi apakah Umar sebagai orang yang pandai baca-tulis termasuk kedalam golongan orang2 Arab yang berpengetahuan itu dan mengikuti mereka dalam meninggalkan kepercayaan masyarakatnya??? TIDAK!! Malah dengan sengitnya ia menyerang mereka (orang2 Arab yang ikut2an agama dan peradapan Rumawi (Nasrani dan Yahudi)).
Umar berpendapat orang yang meninggalkan kepercayaan masyarakatnya telah merusak sendi-sendi pergaulan masyarakat Arab. Ia menganggap perlu memerangi dan menghancurkan mereka supaya tidak berakar dan berkembang. Dalam hal ini, fanatiknya terhadap penyembahan berhala barangkali tidak seberat fanatiknya terhadap masyarakatnya itu sendiri.
Orang2 berilmu dan berpikiran sehat bagi Umar tidak ada artinya jika meninggalkan kepercayaan nenek moyang. Dalam anggapannya, bahkan ilmu dan pikiran sehatnya itulah yang merupakan kejahatan paling besar. Pada masa-masa tertentu dalam sejarah orang sepakat bahwa kebebasan menyatakan pendapat dan kebebasan menganut suatu keyakinan tidak mungkin bertentangan dengan oragnisasi sosial selama hal itu hanya terbatas dalam batas-batas berkeyakinan dan berpendapat dalam pernyataannya. Tetapi pada masa Umar, hal tersebut belum dikukuhkan.
Banyak perang terjadi antara Persia dan Rumawi karena fanatisme agama, hal inilah yang tidak disukai oleh Umar. Sehingga pada masa Jahiliyah itu, Umar sangat keras memusuhi siapa saja yang bukan penyembah berhala dan memerangi siapa saja dari masyarakatnya yang meninggalkan kepercayaan leluhurnya.
Menurutnya, Orang tidak perlu menjadi pengikut orang-orang bodoh dan golongan awam, tetapi mereka harus menjadi pengikut sesama masyarakatnya sendiri yang dapat melihat segala persoalan dengan pandangan yang sehat, pikiran yang jernih dan seksama dalam mencari kebenaran. Jika orang2 Rumawi yang beragama Nasrani dan orang2 Yahudi dibiarkan dan dimaafkan dalam menghina berhala-berhala orang2 Arab, maka orang2 seperti Zaid bin Amr bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Usman bin Al-Huwairis, Abdullah bin Jahsy dan semacamnya dari penduduk Mekah yang meninggalkan penyembahan berhala, bagi mereka tidak ada maaf dan tidak dapat lain harus dimusuhi dan diperangi.
Menurut Umar, “Yang demikian itu kalau dibiarkan begitu,akan menyesatkan orang banyak dan akan memecah belah mereka dan Negeri akan menjurus kepada kehancuran”. Sikap kerasnya dan cepat naik darah itulah membuatnya sampai berlebihan dalam bertindak keras.
(Bersambung)........
Bismillahirrohmannirrohiim
Assalamualaikum wr wb
Kita sudah mengetahui bahwa ketika Rasul Muhammad SAW memohon kepada Allah SWT agar mengokohkan Islam dengan Umar Bin Khattab atau Abu JAhal, Allah SWT telah memilih Umar Bin Al Khattab. tentu hanya Allah SWT sendiri lah yang mengetahui mengapa dan hanya Allah saja yang tahu. Namun dengan membaca sejarah, bagaimana kepribadian mereka, kita dapat mengambil suatu kesimpulan sehingga syaidina Umar RA yang dipilih dalam menguatkan Islam dan bukan Abu Jahal.
Berikut ini adalah sekelumit sejarah Umar Bin Al Khattab yang akan saya bagi menjadi 2 buah catatan:
MASA JAHILIYAH :
Umar adalah seorang pemuda bertubuh kekar, besar, tinggi, kulitnya putih kemerah-merahan dan agak kecoklatan dan dia seorang kidal. Langkahnya lebar, Jika berjalan beliau sangat cepat, tidak bisa ia berjalan perlahan. Beliaua seorang yang mudah sekali marah. Beliau adalah seorang yang selalu unggul dalam hampir segalanya, sajak/syair, berkuda, bergulat, bahkan minum khamar dan perempuan. Umar paling kuat dan paling banyak minum diantara kawan-kawannya, juga mengenai perempuan, banyak gadis-gadis yang tergila2 kepada Umar karena ketampanannya dan karena keperkasaannnya.
Dalam berkuda yang dapat menyaingi kepandaian pemuda Umar adalah sepupu dan sekaligus kemenakannya Zaid bin Amr, seorang pemuda yang menganut ajaran Tauhid Ibrahim, yang menjauhi penyembahan berhala dan menolak makanan dari hasil kurban untuk berhala itu.
Walau demikian, Umar bukanlah orang yang suka membanggakan diri dan tidak pernah menantang seseorang dalam mengadu kehebatan. Namun, bila seseorang merendahkannya dengan mengatakan bahwa ada seseorang lebih unggul darinya, dia akan menerima tantangannya.
Mereka bukanlah orang kaya dan tidak mempunyai khadam. Dalam suatu riwayat, ketika Umar telah menjadi Khalifah, Amr bin Al-As menjadi Gubernur masa kekhalifahan Umar untuk Mesir. Umar telah mencurigainya dan mengirim surat untuk Amr menanyakan asal usul hasil kekayaan yang dihimpunnya. Dalam surat balasannya, Amr sangat marah atas surat Umar tersebut.
Sampai ia berkata kepada Muhammad bin Maslamah (yang datang sebagai utusan Umar dalam menyampaikan suratnya) : “... Sial benar sejarah ini, yang telah membuat aku menjadi Gubernur Umar! Saya dulu melihat Umar dan ayahnya sama-sama mengenakan jubah putih berbulu kasar tipis yang tak sampai di lekuk lututnya dan memikul seikat kayu bakar, sedang Al-As bin Wa’il – (ayahnya) – memakai pakaian sutera berumbai-rumbai.”
Maka Muhammad bin Maslamah menjawab: “Sudahlah Amr! Umar lebih baik dari anda, sedang bapa anda dan bapanya sudah sama-sama dalam neraka...”
Ayah Umar, Al khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi bin Ka'b ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibu Umar, Hantamah binti Hasyim bin Al-Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Al khattab (ayah Umar) seorang yang berperangai keras dan kasar. Dengan demikian sifat ini pun dipunyai oleh Umar. Menurut sumber At-Tabari disebutkan bahwa di masa Kekhalifahannya, ketika melalui sebuah tempat yang bernama Dajnan, Umar berkata " Tiada tuhan selain Allah Yang telah memberi rezeki sekehendakNya dan kepada siapa saja yang dikehendakiNYA. Dulu aku menggembalakan untuk Khattab (ayahnya) di lembah ini dengan mengenakan jubah dari bulu. Dia kasar, payah benar aku bekerja untuk dia, dipukulnya aku kalau lengah. Ketika aku pulang di waktu sore, hanya Allah Yang Tahu.." kemudian dia bersyair...
Tidak ada apa pun yang akan cerah abadi, selain Tuhan
Harta dan anak keturunan akan binasa.
Harta Pusaka Hormuz tidak pernah sekalipun berguna
Keabadian diupayakan kaum Ad yang tak pernah kekal
Tidak juga Sulaiman,
Penguasa Angin, manusia dan jin dapat menahannya
Mana itu Raja-raja dengan berbagai hadiah
Datang dari segenap penjuru
Tersedia dalam tempat penyimpanan besar
Yang pasti suatu hari akan pergi seperti ketika datang!
Umar bin Khattab dibesarkan seperti anak2 Kuraisy, yang kemudian membedakannya dengan yang lain adalah ia sempat belajar baca-tulis, hal mana sangat jarang sekali terjadi dikalangan mereka. bahkan orang2 Arab masa itu tidak menganggap pandai baca-tulis itu adalah suatu keistimewaan, bahkan mereka menghindarinya dan menghindarkan anak2 dari belajar. Ketika Nabi diutus, hanya ada 17 orang yang pandai baca-tulis, sehingga sekarang kita mengatakan bahwa Umar termasuk istimewa diantara teman-teman sebayanya.
Umar mengawini 9 perempuan : Zainab putri Maz'un, Umm Kulsum putri Ali bin Abi Thalib, Umm Kulsum binti Jarul bin Malik, Jamilah binti Sabit, Umm Hakam putri Al-Haris, Atikah binti Zaid, Luhayyah (seorang hamba sahaya), Fukaihah (juga seorang hamba sahaya).
Dia melamar Umm Kulsum putri Abu BAkar, adik syaisatina Aisyah, namun perempuan itu menolak dengan alasan bahwa Umar hidupnya kasar dan sangat keras. Juga dia melamar Umm Aban binti Utbah bin Rabi'ah yang juga menolak dengan mengatakan bahwa dia kikir, keluar masuk rumah dengan muka merengut.
Apa yang dikatakan kedua perempuan itu, merupakan sebagian dari wataknya sejak usia muda dan kemudian tetap begitu dalam perjalanan hidup selanjutnya. Sesudah menjadi Khalifah, maka Umar berkata dalam do'a pertamanya : "Allahuma ya Allah, aku sungguh tegar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah, aku ini lemah, berilah aku kekuatan. Ya Allah, aku sungguh kikir, jadikanlah aku orang pemurah".
Mengenai apa yang disebutnya kebakhilan, karena memang ia tidak pernah kaya, dan ayahnya juga tidak pernah menjadi orang kaya. Sepanjang hidupnya ia dalam keadaan sederhana, padahal, seperti kebanyakan penduduk Mekah, ia juga berdagang. Barangkali wataknya yang keras itu yang membuatnya tidak pernah beruntung dalam perdagangan.
Dengan wataknya yang keras itu, dia tidak pernah dapat mengeluarkan air dari batu, tak pernah ia dapat mengubah tanah menjadi emas, demikian ungkapan masyarakatnya, Kuraisy. Padahal dalam perdagangan ia tak terbatas hanya pada perjalanan musim panas dan musim dingin ke Yaman dan ke Syam saja, ia bahkan pergi sampai ke Persia dan Rumawi. Tetapi dalam perjalanan itu, ia mengutamakan untuk mencerdaskan fikirannya daripada untuk mengembangkan perdagangannya.
Dalam Muruj az-Zahab al-Mas’udi menyebutkan bahwa selama dalam pelbagai perjalanan di masa Jahiliyah itu, Umar banyak menemui pemuka-pemuka Arab dan bertukar pikiran dengan mereka. Kemungkinan besar segala yang sudah dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai utusan dari pihak Kuraisy, dan luasnya pengetahuannya mengenai silsilah orang-orang Arab dan cerita-cerita rakyat masyarakat Arab serta apa yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya masa itu, itulah membuatnya lebih banyak untuk menambah ilmu daripada untuk memperoleh kekayaan.
PENDIDIKAN DAN KONSEP PIKIRANNYA di MASA JAHILIYAH :
Inilah yang membuatnya lebih percaya diri dan lebih punya rasa harga diri. Orang yang berharta selalu perlu menjaga hubungan baik dengan semua orang, untuk melindungi dan memperbesar kekayaannya. Orang yang dalam usaha perdagangan, keberhasilannya bergantung pada kelihaian serta menguasai segala seluk beluknya.
Tetapi Orang yang haus ilmu dan ingin menambah pengetahuannya, harta kekayaan tidak banyak mendapat perhatian. Sebab orang yang sudah keranjingan harta cenderung tidak memperhatikan ilmu dan lebih banyak menggantungkan diri pada masalah-masalah dunia dan tunduk pada yang lebih menguasainya. Tetapi orang yang memandang rendah dunia dan harta, akan memandang memburu ilmu dan pengetahuan lebih membanggakan diri, tingkat inilah yang ingin dicapai Umar dimasa mudanya. Rasa bangga dan percaya diri yang luar biasa itulah yang benar-benar dihayatinya.
Dalam usahanya memburu pengetahuan inilah dimasa mudanya Umar memikirkan nasib Masyarakatnya dan usaha apa yang akan dapat memperbaiki keadaan mereka. Ini juga kemudian membuatnya bangga, berkeras dan menjadi fanatik dengan pendapatnya sendiri tentang tujuan yang ingin dicapainya itu. Ia tidak mau dibantah atau didebat.
Pada masa itu, orang2 Narani dan Yahudi memandang dan menganggap penyembahan berhala seperti yang dilakukan oleh bangsa Arab adalah perbuatan yang batil, setiap orang yang berpikiran sehat harus menjauhinya, demikian juga orang yang berilmu pengetahuan. Sedangkan Orang2 Arab yang melakukan perjalanan berdagang pada musim panas ke Romawi menganggap dan menghubungkan peradaban orang2 Nasrani dan Yahudi itu lebih maju dari peradaban bangsa Arab karena agama mereka. Karena itu orang2 Arab yang mempunyai pengetahuan tidak mengakui penyembahan berhala.
Tetapi apakah Umar sebagai orang yang pandai baca-tulis termasuk kedalam golongan orang2 Arab yang berpengetahuan itu dan mengikuti mereka dalam meninggalkan kepercayaan masyarakatnya??? TIDAK!! Malah dengan sengitnya ia menyerang mereka (orang2 Arab yang ikut2an agama dan peradapan Rumawi (Nasrani dan Yahudi)).
Umar berpendapat orang yang meninggalkan kepercayaan masyarakatnya telah merusak sendi-sendi pergaulan masyarakat Arab. Ia menganggap perlu memerangi dan menghancurkan mereka supaya tidak berakar dan berkembang. Dalam hal ini, fanatiknya terhadap penyembahan berhala barangkali tidak seberat fanatiknya terhadap masyarakatnya itu sendiri.
Orang2 berilmu dan berpikiran sehat bagi Umar tidak ada artinya jika meninggalkan kepercayaan nenek moyang. Dalam anggapannya, bahkan ilmu dan pikiran sehatnya itulah yang merupakan kejahatan paling besar. Pada masa-masa tertentu dalam sejarah orang sepakat bahwa kebebasan menyatakan pendapat dan kebebasan menganut suatu keyakinan tidak mungkin bertentangan dengan oragnisasi sosial selama hal itu hanya terbatas dalam batas-batas berkeyakinan dan berpendapat dalam pernyataannya. Tetapi pada masa Umar, hal tersebut belum dikukuhkan.
Banyak perang terjadi antara Persia dan Rumawi karena fanatisme agama, hal inilah yang tidak disukai oleh Umar. Sehingga pada masa Jahiliyah itu, Umar sangat keras memusuhi siapa saja yang bukan penyembah berhala dan memerangi siapa saja dari masyarakatnya yang meninggalkan kepercayaan leluhurnya.
Menurutnya, Orang tidak perlu menjadi pengikut orang-orang bodoh dan golongan awam, tetapi mereka harus menjadi pengikut sesama masyarakatnya sendiri yang dapat melihat segala persoalan dengan pandangan yang sehat, pikiran yang jernih dan seksama dalam mencari kebenaran. Jika orang2 Rumawi yang beragama Nasrani dan orang2 Yahudi dibiarkan dan dimaafkan dalam menghina berhala-berhala orang2 Arab, maka orang2 seperti Zaid bin Amr bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Usman bin Al-Huwairis, Abdullah bin Jahsy dan semacamnya dari penduduk Mekah yang meninggalkan penyembahan berhala, bagi mereka tidak ada maaf dan tidak dapat lain harus dimusuhi dan diperangi.
Menurut Umar, “Yang demikian itu kalau dibiarkan begitu,akan menyesatkan orang banyak dan akan memecah belah mereka dan Negeri akan menjurus kepada kehancuran”. Sikap kerasnya dan cepat naik darah itulah membuatnya sampai berlebihan dalam bertindak keras.
(Bersambung)........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar