Selasa, 20 Agustus 2019

Khilafatul Muslimin, bukan ANCAMAN bagi Indonesia


Logical Fallacy (kesalahan berfikir), didefiniskan secara akademis sebagai kerancuan berfikir yang disebabkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun DATA dan KONSEP, secara sengaja ataupun tidak sengaja. Dalam bahasa yang sederhana, fallacy juga bisa diartikan dengan “NGAWUR”.

NGAWUR atau sesat fikir ini bisa dilakukan dengan sengaja/sadar dengan tujuan untuk menyesatkan orang lain (publik) disebabkan ada tujuan-tujuan tertentu yang ingin dia capai dengan opini penyesatan tersebut. Akan tetapi Sesat Fikir ini juga bisa terjadi dengan tidak sengaja/tanpa disadari oleh pelaku nalar. Hal ini biasanya disebabkan oleh malas dalam berfikir serta cenderung untuk mengikuti pendapat/opini umum yang memang sudah didesain oleh Oknum2 yang sengaja melakukan penyesatan opini. Akibat yang timbul dari kesalahan berfikir ini sangat Fatal dan Buruk. Baik di dunia ataupun di akherat. Maka dari itu,Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk mengilmui setiap persoalan, serta memberikan tempat yang istimewa bagi manusia yang mampu menggunakan potensi “berfikir”, sehingga dengannya ia mampu membuat keputusan yang tepat dalam menjalani kehidupan.

Media mainstream hari ini mengopinikan bahwa paham khilafah adalah sesat dan merupakan ancaman bagi Indonesia. Daulah Syam di Iraq dan Suriah (ISIS) dijadikan sebagai alasan dan model penerapan ajaran/paham khilafah, video eksekusi terhadap tawanan/sandera yang memperlihatkan kesan SADIS diputar dan ditayangkan secara terus menerus. Selanjutnya entah siapa yang mempelopori, banyak bertebaran di tempat-tempat strategis, bahkan sampai ke sudut-sudut kampung satu pesan yang tertera dalam sebuah spanduk, “Kami warga Rt 05/002 menolak masuknya faham khilafah di wilayah kami”, atau juga “NKRI harga Mati” dan yang senada. Kesimpulanya semua hal yang mengandung kata/kalimat khilafah, adalah SALAH, bertetangan dengan Pancasila dan Haram ada di Indonesia.

Maka kemudian Pemerintah Indonesia merasa perlu membuat satu aturan konstitusional berupa Perppu no 2 tahun 2017, yang bisa dijadikan sebagai landasan hukum untuk menindak siapa saja yang membawa nama Khilafah. Cerita selanjutnya, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) menjadi Organisasi yang pertama kali terkena imbas dari adanya Peraturan ini. Secara resmi HTI dibubarkan, hanya karena HTI membawa ide Khilafah. Bisa jadi suatu saat nanti Khilafatul Muslimin juga akan dibubarkan dengan dalih yang sama, karena membawa nama KHILAFAH, wallahu’alam.

Model kasus diatas menurut pakar komunikasi Indonesia diistilahkan dengan Fallacy of Dramatic Instance. Yaitu kesalahan berfikir yang disebabkan oleh kecenderungan melakukan overgeneralisation (men-generalisir) persoalan. Hanya karena ada kemiripan satu atau dua kasus dengan kasus yang lain maka disimpulkan semuanya sama.

Mudahnya, kerangka berfikir yang dibangun adalah sebagai berikut :
a. ISIS mengusung ide KHILAFAH.
b. HTI senantiasa berbicara dan mengkampanyekan KHILAFAH
c. Khilafatul Muslimin mendeklarasikan KHILAFAH
d. ISIS bertindak SADIS dan KEJAM,
e. Maka, HTI dan Khilafatul Muslimin juga berpotensi bertindak SADIS dan KEJAM, karena sama2 membawa KHILAFAH.
f. Untuk itu HTI dan Khilafatul Muslimin harus ditolak di Indonesia.

Adalah sebuah kecerobohan, kedzaliman dan ketidakadilan, ketika sebuah kesimpulan terhadap KHILAFAH diambil atas dasar Asumsi dan Prasangka saja, tanpa ada data yang valid, akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi ketika kemudian kesimpulan ini disebarluaskan dan menjadi opini umum. Mencari informasi langsung dari sumbernya adalah langkah yang bijak dan objectif, sehingga segala kesimpulan bisa dipertanggungjawabkan.

KHILAFATUL MUSLIMIN bukan ANCAMAN bagi INDONESIA, ini adalah penegasan dari kami,
Agar lebih jelas, kami mengundang seluruh kaum muslimin, khususnya di Indonesia, dan juga kepada Aparat-aparat Pemerintah yang memiliki kepentingan dalam hal ini, untuk hadir silaturahim ke perwakilan khilafatul muslimin terdekat, atau bisa langsung datang ke kantor pusat khilafatul muslimin, teluk betung, Bandar Lampung.


Informasi

081380770389 – Wuri Handoyo

KHILAFATUL MUSLIMIN TIDAK ANTI PANCASILA, MELAINKAN TIDAK SEPAKAT DENGAN PANCASILA


Waduh… statment apa lagi ini ?? emang apa bedanya ANTI PACASILA dengan TIDAK SEPAKAT dengan PANCASILA ?? udah deh.. gak usah retoris, yang pasti-pasti aja.. jadi maunya ente gimna ?? (kami kutipkan sekilas komentar dari orang yang malas berfikir ), semoga bukan Anda..
Statment ini “Khilafatul Muslimin tidak anti pancasila, hanya tidak sepakat..”, seringkali kami sampaikan setiap kali ditanya bagaimana sikap Khilafatul Muslimin terhadap Pancasila?. Siapapun yang bertanya, entah itu orang biasa, tokoh agama, Pak Kyai, Pak ustadz, Habaib, Non muslim, bahkan kepada Aparat Pemerintahan juga kami katakan hal yang sama. Terbuka, Tegas, Lugas, dan Bertanggungjawab.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ANTI diartikan dengan melawan, menentang dan memusuhi, ANTI PANCASILA berarti melawan, menentang dan memusuhi PANCASILA. Kalau dipikir dengan Akal sehat, kenapa mesti Anti Pancasila ?? Lah wong Pancasila isinya kan baik-baik semua kan ?.. coba lihat, dari sila kelima dulu, Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Hanya orang bodoh yang akan melawan, memusuhi, dan menentang keadilan. Semua orang pasti akan mendukung dan memperjuangkan Keadilan. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat dan kebijaksanaan, Persatuan Indonesia, Kemanusiaan yang ADIL dan Beradab, dan Indoneisa yang berketuhanan. Semuanya baik-baik saja, Tidak ada yang jelek dan bertentangan dengan Akal Manusia. Begitu kan ??
Artinya secara Normatif, nilai-nilai Pancasila sesungguhnya adalah nilai nilai universal yang sesuai dengan karakter dasar orang Indonesia (timur). Lantas bagaimana dengan orang yang beriman? Adakah kesesuaianya ??, apalagi bagi orang yang beriman, nilai-nilai universal itu jelas memang mesti menjadi karakter dan sifat orang yang beriman, bahwa orang beriman mesti memiliki rasa kemanusian yang adil dan beradab, bahkan kepada Alam dan lingkungan, Orang beriman juga dituntut untuk bisa memiliki adab yang benar. Menjaga dan tidak melakukan Perusakan lingkungan. Orang beriman juga harus Adil terhadap sesama, bukan hanya kepada kawan, kepada musuh sekalipun, orang beriman dituntut untuk adil. Sampai disini, tidak ada satu alasanpun bagi Khilafatul Muslimin untuk ANTI dengan PANCASILA.
Lantas kenapa Khilafatul Muslimin Tidak Sepakat dengan PANCASILA ?? dari sisi mana ketidak sepakatan itu ?? mengapa demikian ?? (Alhamdulillah mulai bisa diajak berfikir )..
Setiap Muslim memiliki keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diredai ALLAH SWT. Islam bukanlah milik individu atau kelompok-kelompok Islam. Islam adalah hak milik ALLAH SWT. Oleh itu segala syariat dan isi kandungannya ditentukan oleh ALLAH Azza wa Jalla sendiri, Pemilik agama ini. Tiada ruang untuk manusia yang terbatas akal fikiran dan kemampuannya untuk menentukan atau memutuskan walaupun sedikit apa-apa perkara yang berkaitan agama, kecuali dengan dikembalikan kepada hujah dan dalil yang kukuh (Quran dan Sunnah).
Selanjutnya Islam adalah ideologi/keyakinan bagi seorang muslim, prinsip dasar dari keyakinan ini termaktub dalam satu kalimat Laailaahaillallah, Muhammadarrasulullah, kalimat ini mengharuskan seorang muslim untuk menolak segala sesuatu yang tidak berasal dari Allah dan RasulNya, untuk kemudian ia hanya akan menerima dan taat terhadap sesuatu yang berasal dari Allah dan RasulNya. Kalimat ini pula yang mewajibkan seorang muslim untuk memberikan ketaatan, kecintaan, dan penghambaan hanya kepada Allah semata. Sampai disini jelas, bahwa Islam adalah Ideologi, dan sistem hidup bagi mereka yang telah dengan rela dan sadar menyatakan diri sebagai muslim, maka kalau harus menerima ideologi lain selain islam, tentu hal ini merupakan sesuatu yang mustahil.
Dititik inilah persoalanya. Maka kalau kemudian Pancasila dijadikan sebagai Ideologi/keyakinan, maka pasti akan terjadi benturan dengan sesuatu yang telah diyakininya. Dan ini bukan hanya dengan islam sebenarnya, akan tetapi bisa jadi berbenturan dengan kristen, budha, hindu, dll.
Persoalan selanjutnya adalah ketika Pancasila diimplementasikan dalam kehidupan, tidak ada satupun standart yang baku yang bisa dijadikan rujukan (model), sehingga berbeda Pemerintahan, berbeda pula implementasinya. Hal ini memberikan peluang bagi Pemerintah untuk menjadikan Pancasila sebagai alat pengokoh bagi kekuasaanya. Sebagai contoh, Zaman presiden Sukarno, Pancasila diartikan sebagai NASAKOM, berbeda lagi pada zaman Presiden Suharto, Pancasila dimaknai sebagai Asas Tunggal dengan P4-nya, Beda zaman Reformasi era Presiden Gus Dur, sebagai Bapak Pluralisme, Pancasila dimaknai dengan Pluralisme. Zaman presiden Jokowi beda lagi, Pancasila diimplementasikan dengan program revolusi mentalnya. Sampai hari ini ketika tahun politik menjelang pesta demokrasi terjadi, semua partai mengatasnamakan Pancasila, tapi kenapa mesti ada perbedaan yang kian hari kian panas. ??
Maka, Pancasila hanya akan berjalan sesuai isinya jika pelaksana Pancasila adalah orang2 yg beriman. seorang Pancasilais sejati sekalipun kalau bukan orang beriman maka akan dengan mudah menodai isi Pancasila dengan tidak berlaku adil, tidak takut degan Tuhannya dan mendzolimi rakyatnya.
Maka ada satu pertanyaan sederhana, tapi mungkin akan sulit untuk dijawab, sekalipun oleh mereka yang mengaku sebagai Pancasilais sejati, Siapa orang yang paling PANCASILAIS yang ada/pernah ada di Indonesia ini, apa Presiden Sukarno, apa Presiden Suharto, atau Presiden Gusdur, Atau Gubernur Kalimantan Selatan, atau Walikota Bekasi, atau mungkin ketua RT 03/22 ??
Lantas, bagaimana semestinya ??, Temukan Jawaban lengkap dari seluruh pertanyaan Anda dengan silaturahim ke perwakilan khilafatul muslimin terdekat, atau bisa langsung datang ke kantor pusat khilafatul muslimin, teluk betung, Bandar Lampung.

Informasi
081380770389 – Wuri Handoyo

Khilafatul Muslimin milik kita Bersama


Khilafatul Muslimin itu bahasa Arab, bukan Bahasa Inggris, bahasa Indonesia apalagi bahasa jawa J. Selanjutnya bagi siapa saja yang belum bisa bahasa Arab, melalui tulisan ini saya sampaikan bahwa terjemahan bebas dari khilafatul muslimin adalah kekhalifahan milik kaum muslimin. Nah.. Kalau penasaran dan ingin info yang lebih valid, antum semua bisa bertanya kepada pak ustadz, ataupun pak Kyai yang faham dengan Bahasa Arab, Apa sih terjemahan dari Khilafatul Muslimin itu ?? Lantas mengapa mesti Khilafatul Muslimin ??
Kekhalifahan milik kaum Muslimin, maka siapapun dia yang telah menyatakan diri sebagai muslim semestinya merasa memiliki dan menjadi bagian dari Khilafatul Muslimin, serta merasa terpanggil untuk memperjuangkan-nya. Karena memang, pernyataan seseorang menjadi MUSLIM, pasti diikuti oleh konsekwensi dari pernyataannya tersebut. Dan perlu saya tegaskan disini dengan setegas-tegasnya, Bahwa Khilafatul Muslimin tidak bisa dimonopoli kepemilikanya oleh mereka yang memakai seragam peci Hijau Putih saja. Karena memang Khilafatul Muslimin milik seluruh kaum muslimin.
Pilhan nama “KHILAFATUL MUSLIMIN” sebagai institusi pemersatu kaum Muslimin se-dunia, tentunya bukan pilihan yang sembrono dan main-main. Terbukti seluruh kaum muslimin bisa menerimanya. Tidak ada satupun kaum Muslimin di dunia ini yang menolak KHILAFATUL MUSLIMIN. Hal berbeda ketika misalnya ditawarkan nama yang lain, misalnya Partai Islam Indonesia sebagai Institusi pemersatu kaum Muslimin sedunia, maka bisa dipastikan kaum muslimin di Jepang tidak bisa menerima tawaran ini. Belum lagi kaum muslimin yang tidak setuju dengan Partai, pasti akan menolak dengan keras. Artinya baru dari sisi nama saja sudah mendatangkan perselisihan dan ketidak-setujuan.
Adapun Selanjutnya persoalan kewajiban bersatu dan larangan berpecah belah juga telah jelas difahami oleh kaum muslimin secara umum, hanya saja memang ketika masuk pada tahap implementasi/praktek bersatu, dititik ini kaum muslimin berbeda dan berselisih. Lantas, Apakah Islam yang telah Allah maklumat-kan kesempurnanya tidak memberikan petunjuk tentang bagaimana bersatu/berjamaah bagi kaum muslimin ?? Apakah Rasulullah dan para sahabat tidak memberikan contoh keluar dari persoalan ini??, Bukankah bersatu/berjamaah itu adalah satu hal sangat logis dan rasional ??, Terus darimana kita mesti memulai persatuan Islam??
Temukan Jawaban lengkap dari seluruh pertanyaan Anda dengan silaturahim ke perwakilan khilafatul muslimin terdekat, atau bisa langsung datang ke kantor pusat khilafatul muslimin, teluk betung, Bandar Lampung.

*) Ya Allah saksikanlah bahwa kami adalah MUSLIM 15 dzulhijjah 1439H

Informasi
081380770389 – Wuri Handoyo

Akbar-kan Allah dengan sebenarnya.


Kali ini saya akan mengajak kita semua untuk JUJUR.
Perlu diketahui, kata ini merupakan kata yang paling sensitif, karena kejujuran tersimpan rapi dalam satu ruang di setiap hati manusia. Siapapun dia.!! Entah manusia itu laki-laki atau perempuan, besar atau kecil, tua atau muda, kaya atau miskin, penjabat atau rakyat, muslim atau non muslim sekalipun. Ternyata Allah mendesain hati manusia dengan desain yang sama. Ia selalu memiliki ruang kejujuran, yang tidak mungkin diisi oleh kebohongan, meskipun mungkin lisan manusia mengatakan sesuatu yang tidak berasal dari ruang kejujuran di dalam hatinya.
Bagi seorang Muslim, kalimat Allahu Akbar adalah kalimat yang sangat familiar. Minimal (kalau sholat lima waktunya terjaga), seorang muslim akan mengucapkan kalimat ini 102 kali dalam sehari. Ini belum ditambahkan ketika setiap habis sholat seorang muslim melakukan dzikir. Kalimat Allahu Akbar juga kalimat yang dahsyat. Kalimat ini mampu untuk menggelorakan semangat, mampu menghidupkan harapan yang hampir padam, bahkan ia mampu menghidupkan ruh perjuangan yang hampir mati. Teriakan dengan kalimat ini, akan membawa kita pada satu perasaan seolah begitu dekat dengan syahid dan surga. Kalimat ini pula yang akan menggentarkan musuh-musuh Allah dari kalangan Kafirin, Musyrikin, Munafikin, dan Mujrimin.
Tapi.. mari kita sejenak berfikir.. betulkah kita sudah meng-AKBAR-kan Allah dengan se-Akbar-akbarNya? bukankah kalimat ini menuntut kita untuk meniadakan dan menghilangkan segala kebesaran mahluq dari hati kita, untuk kemudian kita masukan kebesaran dan keagungan Allah dalam setiap dimensi ruang dan waktu kehidupan kita? Bagaimana status seorang muslim ketika dalam shalat mereka katakan Allahu Akbar, tapi ketika diluar shalat, hukum dan aturan Allah diabaikan, diacuhkan, dilecehkan bahkan dibuang dan diinjak-injak? Lalu dimana Akbar-Nya Allah ketika kondisi kaum muslimin seperti ini?
Wahai saudaraku kaum muslimin… Perintah Allah untuk bersatu/berjamaah telah MUTLAK. Pun begitu larangan untuk bertafarruq/berpecah belah juga sudah MUTLAK. Maka semestinya, seorang muslim yang betul-betul meng-AKBAR-kan Allah dalam setiap detik kehidupanya, mereka tidak punya pilihan lain kecuali saya dengar dan saya taat terhadap perintah dan larangan Allah yang dimaksud.
Hanya saja, mungkin karena keterbatasan akal manusia, seringkali kaum muslimin BINGGUNG mesti mulai dari mana?. Adapun dengan khilafah, semua kaum muslimin pasti setuju, tapi khilafah yang mana? Bukankah kekhalifahan mesti punya kekuasaan? Bagaimana cara mendapatkan kekuasaan?, Apakah kita mesti bikin Partai, terus ikut pemilu dan menang ?? kalau memang begitu, lantas Partai Islam mana yang mesti jadi WADAH TUNGGAL kaum muslimin?? Terus Apakah syariat membolehkan berjuang lewat Partai?? Bukankah Islam sudah lengkap, lantas Bagaimana petunjuk Allah terkait kondisi saat ini??, dan banyak lagi pertanyaan2 yang mesti butuh jawaban yang Clear dan bisa dipertanggung jawabkan.

*) Ketika gema Takbir berkumandang diseluruh pelosok negeri 10 dzulhijjah 1439H

catatan satu tahun yang lalu..

Informasi
081380770389 – Wuri Handoyo

BENDERA TAUHID dan PERSOALAN KAUM MUSLIMIN


Nama UUS SUKMANA tiba tiba menjadi tenar, setelah sebelumnya Polisi menetapkan dia sebagai tersangka dalam kasus pengibaran Bendera Tauhid di Garut. Tidak lama kemudian bermunculan tulisan2, gambar dan meme dari warganet yang membully dan mengolok-olok pak Polisi terkait dengan kesimpulannya yang aneh serta metodologi-nya dalam menetapkan UUS sebagai tersangka. Bahkan kemudian sampai ada meme yang menyimpulkan dalam hal ini TUHAN bisa ditetapkan sebagai tersangka, sebab kalau TUHAN tidak menciptakan UUS, tentu tidak akan terjadi pembakaran bendera ini.
Akan tetapi tulisan ini tidak bermaksud untuk menambah daftar olok-olok dan bully-an terhadap kerja Pak Polisi, hanya sekedar memberikan inspirasi (hikmah)terhadap kasus pembakaran bendera tauhid di Garut. Yang mana saya memiliki keyakinan, bahwa kejadian ini tidak mungkin terlepas dari adanya Kehendak Allah SWT.
Kasus Pembakaran Bendera tauhid, dan kasus-kasus penistaan agama, ataupun kriminalisasi dan persekusi terhadap ulama, sesungguhnya adalah persoalan IZZAH / Harga diri kaum Muslimin. Sangat miris dan prihatin dengan kondisi hari ini, Islam dan kaum Muslimin, seolah tidak lagi memiliki WIBAWA, IZZAH, KEMULIAAN, HARGA DIRI dan KEHORMATAN. Ini adalah titik terendah yang dimiliki kaum muslimin dalam perjalanan sejarah sejak diutusnya Rasulullah Muhammad SAW sampai dengan hari ini. Hanya bisa sedih dan nelangsa saja. Bahkan banyak kemudian diantara kaum muslimin yang menutup mata dan seolah tidak peduli dengan persoaalan ini.
Terinspirasi dari cara dan argumentasi Pak Polisi dalam menetapkan UUS sebagai tersangka, dan juga dengan banyaknya MEME yang beredar dari Warganet, maka Kaum muslimin harus sampai pada kesimpulan, apa AKAR PERSOALAN dari kondisi umat hari ini. ??
Singkat cerita, akar persoalanya adalah karena KAUM MUSLIMIN tidak BERSATU dalam satu kepemimpinan, akan tetapi BERPECAH BELAH dalam banyak kelompok dan Golongan. Kalaupun kaum muslimin bersatu, maka persatuanya hanya dalam tataran teknis saja, misalnya melakukan AKSI BERSAMA, setelah itu kembali kepada kelompoknya masing2, padahal persoalan PERSATUAN, ia adalah Kewajiban yang telah MUTLAK, sedangkan persoalan PERPECAHAN adalah keharaman yang telah MUTLAK juga.. Bagaimana kemudian respon kaum muslimin terhadap persoalan ini, hal ini-lah yang akan menentukan IZZAH dan HARGA DIRI Islam dan kaum Muslimin..
Dimanakah tempat BERSATU-nya kaum Muslimin ??, dalam Wadah apa ??, Bagaimana memulainya ?? Siapa yang memiliki hak untuk memimpin ??, Bagaimana hubungan dengan Pemerintah Indonesia yang saat ini telah eksis??, bukankah yang terpenting hari ini kita berada dalam AQIDAH yang sama??, atau juga yang penting kita memiliki tujuan yang sama??, dan masih banyak persoalan lain yang mesti dijawab dengan CLEAR oleh kaum muslimin hari ini..
Untuk itu, kami mengundang seluruh kaum Muslimin, dimanapun berada untuk bisa silaturahim di perwakilan khilafatul muslimin terdekat, atau bisa langsung datang ke kantor pusat khilafatul muslimin, teluk betung, Bandar Lampung. Insya Allah akan ada titik terang dari semua persoalan ini..

Salam.

Informasi
081380770389 – Wuri Handoyo

Kamis, 15 Agustus 2019

Surga milik KHILAFATUL MUSLIMIN ??

Terus... yang masuk surga, hanya anggota Khilafatul Muslimin begitu??, pertanyaan tajam dan sangat tiba-tiba itu serta merta menghentikan kalimatku ketika menyampaikan kewajiban bersatu dan keharaman berpecah belah atas umat islam, di syawal 1437H tahun ini. 
Dalam keterkejutan sesaat, setelah mendapatkan pertanyaan tak terduga itu, aku terinspirasi untuk membacakan firman Allah di QS 2:25.. “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal sholeh, bahwa bagi mereka disediakan surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai...”, maka dengan tanpa menyanggah ataupun mengiyakan pertanyaan tersebut, aku sampaikan “Yang masuk surganya Allah adalah mereka yang ber-iman dan ber-amal sholeh". Adapun “KHILAFATUL MUSLIMIN” adalah respon jujur dan spontan yang diberikan oleh “iman” yang dimiliki seseorang, ketika sampai kepada mereka kewajiban bersatu dan keharaman berpecah belah atas umat islam”. “Atau mungkin antum punya usulan lain, dimana bersatunya umat islam selain dalam sistem khilafah-nya kaum muslimin/Khilafatul Muslimin ??” jawabku tenang, “Ya.. tapi kan, KHILAFATUL MUSLIMIN, belum diakui oleh seluruh kaum muslimin di Dunia”, sanggahnya. “Ya betul itu.. dan antum termasuk salah satu yang belum mengakuinya, akan tetapi ana, berdasarkan keilmuan dan pemahaman ana terhadap petunjuk Al Qur’an, telah mengakui dan menyakini kebenarannya”. Jawabku cepat. (dialog masih berlanjut, akan tetapi untuk kepentingan penulisan agar tetap fokus pada tema, cerita dialog ini ana potong disini.. afwan)
Siapapun kita, pasti sangat mendambakan surga-nya Allah SWT. Sebagai sebuah ilustrasi, ketika ada ribuan orang sedang berkumpul, kemudian disampaikan kepada mereka, siapa saja yang ingin masuk surga, tunjuk tangan.!!, semua orang yang hadir, bisa dipastikan tunjuk tangan, kecuali mereka yang benar-benar bodoh, atau mereka yang sedang bermain-main dan bersendau gurau. Akan tetapi klaim bahwa surganya Allah merupakan monopoli jama’ah tertentu, jelas sebuah pernyataan arogan tanpa dasar.
Selanjutnya, dalam konteks dialog antar harokah islam/organisasi islam, seringkali kesan bahwa surga-Nya Allah menjadi monopoli satu jama’ah tertentu, MUNCUL mengiringi berbagai macam argumentasi yang disampaikan. Bahkan bagi mereka yang telah “fanatik” terhadap jama’ah tertentu, akan berani membuat sebuah klaim, bahwa surga hanya bagi kelompoknya saja. Yang lain tidak berhak mendapatkanya. Wallahu’alam pertanyaan yang ana terima, sebagaimana tertulis di awal tulisan ini, apakah memang muncul karena kesan yang timbul ketika ana berargumentasi tentang KHILAFATUL MUSLIMIN, atau sekedar Psi-War (Perang psikologi), ingin menjatuhkan mental lawan bicara sebagaimana yang sering dilakukan dalam sebuah diskusi dan dialog. Akan tetapi, bagi ana, apapun motifasi yang ada dalam pertanyaan tersebut, paling tidak ana mendapatkan ilmu baru tentang mereka-mereka yang berhak mendapatkan surgaNya Allah.
Pernyataan/klaim masuk surga hanya bagi kelompok-nya saja, ternyata telah terjadi sejak zaman dahulu. Orang-orang Yahudi berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga, kecuali orang yahudi”. Pun demikian orang-orang Nasrani juga membuat statement “Sekali-kali tidak akan masuk surga, kecuali orang Nasrani”. Maka Argumentasi Al Qur’an bagi pernyataan yang mereka bikin cukup simple. “Katakankanlah, tunjukan bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (lihat QS Al Baqarah : 111). Yang lebih menggelikan lagi, mereka (Yahudi dan Nasrani) kemudian saling berbantahan, bahwa masing-masing pihak menuduh pihak lain tidak memiliki dasar/hujah/pegangan. Padahal mereka sama-sama membaca Al kitab (lihat QS Al Baqarah ; 113). Maha benar Allah dengan segala FirmanNya, silahkan antum lihat realitas dialog antar harokah Islam hari ini, terlebih di dunia maya, betapa karakter ahli kitab, telah tampak begitu nyata.
“Bukan demikian, Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat ihsan, maka baginya pahala disisi Rabb-Nya tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula bersedih hati” (Qs Al Baqarah:112). Disini Al Qur’an menegaskan tentang prinsip pemberian balasan berdasarkan amal perbuatan tanpa mengenal keberpihakan kepada satu umat atau golongan tertentu. Hanya Islam dan Ihsan serta Iman dan Amal yang menjadi ukuran, bukan Nama dan Label. Meskipun mungkin Nama / Label kelompok-nya ada tersebut dalam salah satu ayat Al Qur’an ataupun Hadist Rasulullah SAW. Jangan pernah merasa aman, seolah telah mendapatkan jaminan surga hanya karena telah mengikuti suatu jama’ah tertentu. Karena surga bukan monopoli sebuah jama’ah. Tetaplah berusaha maksimal untuk jujur, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, serta berbuat dan beramal berdasarkan tuntunan tentunya. Penuhilah kriteria Allah yang telah disebutkan dalam Ayat yang telah ditulis diatas.
Adapun KHILAFATUL MUSLIMIN adalah ‘Respon Jujur dan Spontan’ yang diberikan oleh “IMAN” yang dimiliki oleh seseorang, ketika sampai kepadanya kewajiban bersatu dan keharaman berpecah belah atas umat islam. Seperti tumbuhan ‘putri malu’, Ketika ia merasakan adanya sentuhan, ia akan segera memberikan respon dengan menguncupkan daunnya. Bukan hanya disentuh, bahkan ketika angin bertiup cukup kencang menerpa ke arahnya, sensitifitasnya terhadap lingkungan sekitar akan memerintahkan daunnya untuk segera menguncup. Fitrah penciptaannya, tidak memungkinkan baginya untuk mengelak seraya mengatakan ‘aku tidak merasakan sentuhan, ngapain harus menguncupkan daun’. Ah sudahlah.. Mungkin pernyataan ini sangat subjektif. Tapi begitulah aku..
Oh ya.. tambahan satu lagi... ada argumentasi Al Qur’an yang sangat telak disampaikan kepada Orang-orang yahudi, ketika mereka membuat statment kalau surga hanya khusus untuk orang-orang yahudi. Tidak untuk manusia yang lain. Silahkan buka di QS Al Baqarah : 94. Bagaimana dengan antum semua ?? silahkan jawab sendiri dengan jujur.. Wallahu’alam.