PERMUSUHANNYA TERHADAP ISLAM :
Pada momentum yang demikian itulah Allah berkenan, lalu mengutus Muhammad kepada masyarakat agar mengajak mereka ke jalan dan agama yang benar. Dan penduduk Mekah yang begitu fanatik terhadap penyembahan berhala pun mulai menyiksa kaum duafa yang masuk Islam dengan tujuan supaya mereka kembali menyembah berhala. Sudah tentu Umar bin Khattab laki-laki Mekah yang gagah perkasa yang paling keras menentang dan memerangi ajaran baru ini.
Ibnu Hisyam menuturkan bahwa suatu hari Abu Bakar melihat Umar sedang menghajar seorang budak perempuan supaya meninggalkan Islam. Demikian rupa dia menghajar, sehingga ia menjadi bosan sendiri karena sudah terlalu banyak memukul. Saat itulah kemudian ia meninggalkan budak itu sembari berkata “Kumaafkan engkau! Kutinggalkan engkau hanya karena aku sudah bosan”. Hamba sahaya itu pun menjawab “Itulah yang dilakukan Allah kepadamu”, kemudian hamba sahaya itu dibeli oleh Abu Bakar untuk dibebaskan.
Perlawanan Umar terhadap Muhammad dan dakwahnya bukan karena fanatik atau tidak mengerti. Kita sudah mengetahui bahwa Umar termasuk penduduk Mekah yang paling mantap dan paling banyak pengetahuannya. Dia pun sudah mendengar kata-kata Muhammad. Namun, menurut pendapatnya, Langkah laki-laki itu (Muhammad) hanya akan merusak dan menghancurkan tatanan hidup di Mekah. Dia lebih menyukai Mekah dengann segala tata tertibnya serta penduduknya yang hidup tenang, daripada Muhammad dan dakwahnya yang ternyata memecah belah persatuan Kuraisy dan menginjak-injak kedudukan tanah suci itu. Membiarkan dakwah itu berarti akan menambah perpecahan dikalangan Kuraisy dan kedudukan Mekah pun akan makin hina.
Apabila Umar telah menyendiri, maka sesuatu berkecamuk dalam fikirannya. Apakah yang merisaukan hatinya itu..?? ialah:
1. “ Jika Kuraisy menghentikan Muhammad hanya sampai pada menentang mereka yang menjadi pengikut2nya dan berusaha supaya orang2 yang lemah itu meninggalkan Islam, jelas hal ini akan menghanyutkan Mekah dan orang2 Kuraisy ke dalam kehancuran dan Kuraisy hanya akan menjadi buah bibir semua orang Arab!!
2. Dosa apa gerangan kaum duafa itu sehingga disiksa demikian rupa! Semua dosa itu adalah dosa Muhammad dan pesona bahasanya serta kekuatan logikanya. Retorika yang memukau itulah yang mempengaruhi pikiran kaum duafa, kaum yang lemah dan yang lain yang sampai meninggalkan kepercayaan nenek moyang mereka. Kalau Muhammad meninggal, hilanglah semua prahara itu dan susana akan menjadi jernih kembali, tanah suci akan tetap aman dan damai seperti sedia kala. Terbunuhnya satu orang bukan lagi untuk menyelamatkan 1 kabilah, tetapi untuk menyelamatkan semua kabilah di Mekah. Mereka akan kembali bersatu dan tata tertib akan stabil kembali.
3. Tetapi, apa yang dikatakan Muhammad itu memang baik. Tidak lebih dia hanya mengulang-ulang kembali kata-kata itu dan mengajak orang agar mengikuti cara yang baik pula. Disamping itu, Kuraisy mengenalnya sebagai orang yang belum pernah berdusta. Akan dibunuhkah dia tanpa alasan kecuali hanya karena mengatakan, Allah adalah Tuhanku, dan mengatakan itu saja karena memang hanya itulah yang diyakininya dan sudah menjadi keimanannya..!? Bagaimana caranya membunuh dia atau menghabisi orang itu (Muhammad), padahal dia dari keluarga Hasyim, dan keluarga Hasyim akan membela dan melindunginya..
4. Diantara mereka yang sudah beriman kepadanya dan memenuhi seruannya dan bersama-sama dia adalah orang-orang yang berkedudukan dari kabilah-kabilah terhormat, mereka tentu akan mengadakan pembelaan seperti Banu Hasyim membela Muhammad. Abu Bakar dan Talhah bin Abdullah dari Banu Taim bin Murrah; Abdur-Rahman bin Auf dan Sa’d bin Abi Waqqas dari Banu Zuhrah; Usman bin Affan dari Banu Abdu-Syams; Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dari Banu Fihr bin Malik dan Az-Zubair bin Al-Awwam dari Banu Asad. Mereka semua orang-orang terpandang dalam kabilah masing-masing dan yang harus mereka lindungi apabila ada pihak yang akan mengganggu mereka.
5. Jika seandainya aku memerangi mereka dan memerangi Muhammad dan menghasut untuk menyerang mereka, niscaya akan timbul perang saudara di Mekah. Hal ini jauh lebih berbahaya terhadap kedudukan mereka daripada terhadap Muhammad dan ajakannya itu.
Begitulah semuanya berkecamuk dalam hati dan fikiran Umar apabila dia telah menyendiri. Apabila ia bertemu dengan masyarakatnya dan melihat perpecahan yang ada pada mereka, kembali keprihatinannya timbul ingin mengembalikan ketenangan Mekah dengan jalan mengikis sumber penyebab perpecahan itu.
Pikiran-pikiran itu tetap terus menggoda hatinya; sampai kemudian Muhammad meminta pengikut2nya hijrah ke Abisinia, berlindung kepada Allah dengan agama yang mereka yakini. Tetapi setelah Umar melihat mereka (para pengikut Muhammad) berpisah dengan keluarga2 dan tanah tumpah darah mereka, timbul rasa kasihan, terasa luka dihati karena perpisahan itu. Baginya ini adalah soal besar. Hatinya memberontak, lama sekali ia memikirkan ingin menghabisi Muhammad dan ajarannya itu. Kalaulah ia sudah melaksanakan niatnya itu, tentu Kuraisy akan bebas, dewa-dewa di Ka’bah dan semua dewa-dewa orang2 Arab akan berkenan.
Kalaupun dia harus menderita akibat perbuatannya itu, akan ia tanggung demi kepentingan Kuraisy dan demi Mekah. Kuraisy adalah keluarganya dan Mekah adalah tanah tumpah darahnya. Penderitaan demi keluarga dan Negeri sendiri merupakan langkah yang Terpuji. Begitulah pikir Umar, begitulah niat dihatinya dahulu. Tetapi ia belum mengetahui, bahwa Allah mempunyai kebijaksanaan sendiri terhadap makhluk-makhluk-NYA. Dan kebijaksanaan Yang Maha Kuasa tidak dapat dikalahkan oleh akal pikiran dan gejolak hatinya yang selama ini panas membara.
Umar, seorang pemuda yang berperangai kasar dan keras hidupnya, tetapi mempunyai sisi hati yang lembut dalam arti keadilan. Diriwayatkan, bahwa ketika Muhammad memberi isyarat kepada pengikut2nya untuk hijarah ke Abisinia, Umar merasa terharu dan kesepian berpisah dengan mereka. Dalam pada itu, ia berjumpa dengan Umm Abdullah binti Abi Hismah yang sedang berkemas bersama suaminya untuk pergi hijarah meninggalkan Mekah.
Umar berdiri dihadapan mereka dan menyapa dengan sedih “ Jadi juga berangkat, Umm Abdullah?”
Umm abdullah menjawab “ Ya!, kami akan keluar dari bumi Allah ini. Kalian mengganggu kami dan memaksa kami dengan kekerasan. Semoga Allah memberi jalan keluar untuk kami”.
Umar berkata lagi “Allah akan menyertai kalian”. Umm Abdullah melihat mata Umar demikian sayu dan sedih, lalu dia berkata kepada suaminya bahwa dia sangat mengharapkan Umar akan masuk Islam, tetapi suaminya menjawab: “Orang ini tidak akan masuk Islam, sebelum keledai Khattab lebih dahulu masuk Islam”.
Kesedihan itulah yang semakin mendorong kebenciannya pada Muhammad dan ingin segera membunuhnya, karena anggapannya Muhammad telah membuat sebagian keluarga harus berpisah dan bercerai berai dengan keluarga lainnya. Maka ia pergi mencari Muhammad, dijalan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah, Nu’aim bertanya kepada Umar : “ Mau kemana?”
dijawab oleh Umar “Aku sedang mencari Muhammad, itu orang sudah meninggalkan kepercayaan leluhur dan memecah belah Kuraisy, menistakan lembaga hidup kita, menghina agama dan sembahan kita. Aku akan bunuh dia!”
“Anda menipu diri sendiri, Umar. Anda kira Abdu Manaf (keluarga besar Muhammad) akan membiarkan anda bebas berjalan di bumi ini jika sudah membunuh Muhammad? Tidak kah lebih baik anda pulang dahulu menemui keluargamu dan luruskan mereka!”.
“keluarga saya yang mana??” tanya Umar.
Nu’aim menjawab “ Ipar dan sepupumu Sa’id bin Zaid bin Amr dan adikmu Fatimah binti Khattab. Mereka sudah masuk Islam. Mereka lah yang harus engkau hadapi”.
Umar berbalik badan dengan darah mendidih menyusul saudara2nya itu. Ketika sampai dirumah adiknya, dia mendengar adiknya sedang mengaji, maka benar lah apa yang dikatakan Nu’aim tadi, bahwa adiknya telah murtad dari agama leluhur.
dia menerobos masuk dan mengamuk membabi buta dan memukul saudaranya Sa’id dan adiknya Fatimah sehingga kepala adiknya itu berdarah. Melihat kepala adiknya berdarah akibat pukulannya itu, Umar merasa menyesal dan menyadari apa yang telah diperbuatnya.
Katanya “ kemarikan kitab yang kau baca tadi, akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad kepada kalian” lalu dibacanya apa yang dibaca adiknya tadi, “Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!”.
Rupanya didalam rumah itu ada Khabbab yang ketika Umar datang tadi, dia lantas bersembunyi. Seketika mendengar perkataan Umar itu, dia keluar dan berkata “ Umar, demi Allah saya sangat mengharap Allah akan memberi kehormatan kepadamu dengan ajaran Rasul-NYA ini.
Kemarin saya mendengar Muhammad berdo’a : ‘Allahuma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau dengan Umar bin Khattab’, berhati-hati lah, Umar!”. Mendengar itu, Umar berkata : “Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad untuk masuk Islam”.
Dalam hal ini, ada sebuah riwayat dari sumber yang paling terkenal yang didasarkan kepada Umar sendiri, yang menurut pengamatan para ahli pengamat sejarah Islam lebih masuk akal dan cenderung menyetujui riwayat ini tentang masuknya Umar kepada Islam.
Yaitu ketika Umar secara tidak sengaja melihat Muhammad yang sedang bersembahyang di Ka’bah dengan menghadapkan mukanya ke arah Syam, sehingga Ka’bah berada diantara dia dan Syam.
Tempat salatnya di antara dua sudut hajar aswad dengan sudut Yamami. Kata Umar “Sungguh aku sangat mengharap malam ini dapat menguping Muhammad sampai aku dapat mendengar apa yang dikatakannya. Karena khawatir dia dapat melihatku, maka aku datang dari arah Hijr. Aku masuk ke balik kain Ka’bah dan berjalan pelan-pelan kehadapannya; antara aku dan dia dibatasi kain Ka’bah. Aku mendengar dia membaca Al-Qur’an, hatiku sungguh tersentuh dan aku menangis, Islam telah merasuk hatiku.”
Bila kita perhatikan pribadi dan psikologi Umar, maka dapat kita lihat keunggulan Umar sehingga dia pantas diberi kehormatan untuk memperkuat Islam. Yaitu :
1. Dia asli dari masyarakatnya sendiri, sangat fanatik terhadap mereka, ingin sekali melihat ketertiban dan kedudukan kota mereka yang kuat.
2. Mengenai keyakinannya, terlihat dari kemarahannya kepada saudaranya Said bin Amr dan adiknya Fatimah yang meninggalkan agama masyarakatnya untuk mengambil agama dari yang lain, hal ini tidak sesuai dengan wataknya yang ingin melihat ketertiban umum serta kedudukan Mekah yang kuat di mata semua orang Arab.
3. Sungguh pun demikian, Umar memiliki hati yang lembut, berperasaan halus dalam arti keadilan. Seperti kesedihannya ketika melihat Umm Abdullah binti Abi Hismah hendak pergi meninggalkan Mekah dan ketika melihat kepala Fatimah berdarah karena perbuatannya.
4. Lamanya Umar menimbang-nimbang dalam kesendiriannya ketika hendak membunuh Muhammad. Ia memikirkan segala hal, akibatnya dan kehati-hatiannya dalam melakukan tindakan itu sebelum mengambil keputusan.
5. Tersentuhnya hati Umar ketika mendengar Al-Qur’an dibacakan, meluluhkan hatinya yang keras dan beringas. Namun ketika melihat perpecahan masyarakatnya, kebenciannya kembali timbul kepada Muhammad dan kembali ia ingin membunuhnya. Kemungkinan karena ia pernah mendengarkan Muhammad membaca Al-Qur’an ketika salat di Ka’bah dahulu, karenanya ia ingin sekali membaca surat Ta-ha yang dibaca adik perempuannya ketika hatinya menjadi luluh saat melihat kepada Fatimah berdarah karena kekhilafannya.
Sifat-sifat demikian ini dapat menterjemahkan kepada kita mengapa ia kemudian masuk Islam dan memperkuat Islam dengan dirinya. Dan dikemudian hari dia diberi gelar Al-Faruq atau PEMISAH. yang namanya akan disebut-sebut orang dengan penuh penghargaan, dengan penuh rasa hormat sampai akhir zaman.
Sedangkan Abu Jahal tidak mau memperhatikan, tidak mau beriman atau mempercayai ajaran dan agama Muhammad, salah satu alasannya adlah karena Keluarga Abdu-Syams (keluarga Abu Jahal) dengan keluarga Abdu-Manaf (keluarga Muhammad) terjadi suatu persaingan yang keras sebagai suatu keluarga besar. Kedua keluarga ini adalah pemimpin bagi kabilah2 di kota Mekah masa itu, bahkan (sebagai istilah nya) mereka adalah sebuah keluarga ahli waris dalam menjaga dan merawat Ka’bah. Rasa malu bila berbai’at dengan Muhammad berarti menjadi pengikutnya dan berdiri di bawah Panji Islam yang dipimpin Muhammad, keluarga Abdu-Syams akan menjadi keluarga yang berada dibawah keluarga Abdu-Manaf, dan hal itu sangat memalukan bagi Abu Jahal. Sementara keinginan Abu Jahal adalah menjadi pemimpin seluruh Kabilah di Arab terutama Mekah dan bukan menjadi prajurit Muhammad.
Demikianlah Allah telah memberikan Hidayah-NYA kepada Umar bin Al Khattab dan bukan kepada Abu Jahal.
Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr wr
=FKSG=
Pada momentum yang demikian itulah Allah berkenan, lalu mengutus Muhammad kepada masyarakat agar mengajak mereka ke jalan dan agama yang benar. Dan penduduk Mekah yang begitu fanatik terhadap penyembahan berhala pun mulai menyiksa kaum duafa yang masuk Islam dengan tujuan supaya mereka kembali menyembah berhala. Sudah tentu Umar bin Khattab laki-laki Mekah yang gagah perkasa yang paling keras menentang dan memerangi ajaran baru ini.
Ibnu Hisyam menuturkan bahwa suatu hari Abu Bakar melihat Umar sedang menghajar seorang budak perempuan supaya meninggalkan Islam. Demikian rupa dia menghajar, sehingga ia menjadi bosan sendiri karena sudah terlalu banyak memukul. Saat itulah kemudian ia meninggalkan budak itu sembari berkata “Kumaafkan engkau! Kutinggalkan engkau hanya karena aku sudah bosan”. Hamba sahaya itu pun menjawab “Itulah yang dilakukan Allah kepadamu”, kemudian hamba sahaya itu dibeli oleh Abu Bakar untuk dibebaskan.
Perlawanan Umar terhadap Muhammad dan dakwahnya bukan karena fanatik atau tidak mengerti. Kita sudah mengetahui bahwa Umar termasuk penduduk Mekah yang paling mantap dan paling banyak pengetahuannya. Dia pun sudah mendengar kata-kata Muhammad. Namun, menurut pendapatnya, Langkah laki-laki itu (Muhammad) hanya akan merusak dan menghancurkan tatanan hidup di Mekah. Dia lebih menyukai Mekah dengann segala tata tertibnya serta penduduknya yang hidup tenang, daripada Muhammad dan dakwahnya yang ternyata memecah belah persatuan Kuraisy dan menginjak-injak kedudukan tanah suci itu. Membiarkan dakwah itu berarti akan menambah perpecahan dikalangan Kuraisy dan kedudukan Mekah pun akan makin hina.
Apabila Umar telah menyendiri, maka sesuatu berkecamuk dalam fikirannya. Apakah yang merisaukan hatinya itu..?? ialah:
1. “ Jika Kuraisy menghentikan Muhammad hanya sampai pada menentang mereka yang menjadi pengikut2nya dan berusaha supaya orang2 yang lemah itu meninggalkan Islam, jelas hal ini akan menghanyutkan Mekah dan orang2 Kuraisy ke dalam kehancuran dan Kuraisy hanya akan menjadi buah bibir semua orang Arab!!
2. Dosa apa gerangan kaum duafa itu sehingga disiksa demikian rupa! Semua dosa itu adalah dosa Muhammad dan pesona bahasanya serta kekuatan logikanya. Retorika yang memukau itulah yang mempengaruhi pikiran kaum duafa, kaum yang lemah dan yang lain yang sampai meninggalkan kepercayaan nenek moyang mereka. Kalau Muhammad meninggal, hilanglah semua prahara itu dan susana akan menjadi jernih kembali, tanah suci akan tetap aman dan damai seperti sedia kala. Terbunuhnya satu orang bukan lagi untuk menyelamatkan 1 kabilah, tetapi untuk menyelamatkan semua kabilah di Mekah. Mereka akan kembali bersatu dan tata tertib akan stabil kembali.
3. Tetapi, apa yang dikatakan Muhammad itu memang baik. Tidak lebih dia hanya mengulang-ulang kembali kata-kata itu dan mengajak orang agar mengikuti cara yang baik pula. Disamping itu, Kuraisy mengenalnya sebagai orang yang belum pernah berdusta. Akan dibunuhkah dia tanpa alasan kecuali hanya karena mengatakan, Allah adalah Tuhanku, dan mengatakan itu saja karena memang hanya itulah yang diyakininya dan sudah menjadi keimanannya..!? Bagaimana caranya membunuh dia atau menghabisi orang itu (Muhammad), padahal dia dari keluarga Hasyim, dan keluarga Hasyim akan membela dan melindunginya..
4. Diantara mereka yang sudah beriman kepadanya dan memenuhi seruannya dan bersama-sama dia adalah orang-orang yang berkedudukan dari kabilah-kabilah terhormat, mereka tentu akan mengadakan pembelaan seperti Banu Hasyim membela Muhammad. Abu Bakar dan Talhah bin Abdullah dari Banu Taim bin Murrah; Abdur-Rahman bin Auf dan Sa’d bin Abi Waqqas dari Banu Zuhrah; Usman bin Affan dari Banu Abdu-Syams; Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dari Banu Fihr bin Malik dan Az-Zubair bin Al-Awwam dari Banu Asad. Mereka semua orang-orang terpandang dalam kabilah masing-masing dan yang harus mereka lindungi apabila ada pihak yang akan mengganggu mereka.
5. Jika seandainya aku memerangi mereka dan memerangi Muhammad dan menghasut untuk menyerang mereka, niscaya akan timbul perang saudara di Mekah. Hal ini jauh lebih berbahaya terhadap kedudukan mereka daripada terhadap Muhammad dan ajakannya itu.
Begitulah semuanya berkecamuk dalam hati dan fikiran Umar apabila dia telah menyendiri. Apabila ia bertemu dengan masyarakatnya dan melihat perpecahan yang ada pada mereka, kembali keprihatinannya timbul ingin mengembalikan ketenangan Mekah dengan jalan mengikis sumber penyebab perpecahan itu.
Pikiran-pikiran itu tetap terus menggoda hatinya; sampai kemudian Muhammad meminta pengikut2nya hijrah ke Abisinia, berlindung kepada Allah dengan agama yang mereka yakini. Tetapi setelah Umar melihat mereka (para pengikut Muhammad) berpisah dengan keluarga2 dan tanah tumpah darah mereka, timbul rasa kasihan, terasa luka dihati karena perpisahan itu. Baginya ini adalah soal besar. Hatinya memberontak, lama sekali ia memikirkan ingin menghabisi Muhammad dan ajarannya itu. Kalaulah ia sudah melaksanakan niatnya itu, tentu Kuraisy akan bebas, dewa-dewa di Ka’bah dan semua dewa-dewa orang2 Arab akan berkenan.
Kalaupun dia harus menderita akibat perbuatannya itu, akan ia tanggung demi kepentingan Kuraisy dan demi Mekah. Kuraisy adalah keluarganya dan Mekah adalah tanah tumpah darahnya. Penderitaan demi keluarga dan Negeri sendiri merupakan langkah yang Terpuji. Begitulah pikir Umar, begitulah niat dihatinya dahulu. Tetapi ia belum mengetahui, bahwa Allah mempunyai kebijaksanaan sendiri terhadap makhluk-makhluk-NYA. Dan kebijaksanaan Yang Maha Kuasa tidak dapat dikalahkan oleh akal pikiran dan gejolak hatinya yang selama ini panas membara.
Umar, seorang pemuda yang berperangai kasar dan keras hidupnya, tetapi mempunyai sisi hati yang lembut dalam arti keadilan. Diriwayatkan, bahwa ketika Muhammad memberi isyarat kepada pengikut2nya untuk hijarah ke Abisinia, Umar merasa terharu dan kesepian berpisah dengan mereka. Dalam pada itu, ia berjumpa dengan Umm Abdullah binti Abi Hismah yang sedang berkemas bersama suaminya untuk pergi hijarah meninggalkan Mekah.
Umar berdiri dihadapan mereka dan menyapa dengan sedih “ Jadi juga berangkat, Umm Abdullah?”
Umm abdullah menjawab “ Ya!, kami akan keluar dari bumi Allah ini. Kalian mengganggu kami dan memaksa kami dengan kekerasan. Semoga Allah memberi jalan keluar untuk kami”.
Umar berkata lagi “Allah akan menyertai kalian”. Umm Abdullah melihat mata Umar demikian sayu dan sedih, lalu dia berkata kepada suaminya bahwa dia sangat mengharapkan Umar akan masuk Islam, tetapi suaminya menjawab: “Orang ini tidak akan masuk Islam, sebelum keledai Khattab lebih dahulu masuk Islam”.
Kesedihan itulah yang semakin mendorong kebenciannya pada Muhammad dan ingin segera membunuhnya, karena anggapannya Muhammad telah membuat sebagian keluarga harus berpisah dan bercerai berai dengan keluarga lainnya. Maka ia pergi mencari Muhammad, dijalan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah, Nu’aim bertanya kepada Umar : “ Mau kemana?”
dijawab oleh Umar “Aku sedang mencari Muhammad, itu orang sudah meninggalkan kepercayaan leluhur dan memecah belah Kuraisy, menistakan lembaga hidup kita, menghina agama dan sembahan kita. Aku akan bunuh dia!”
“Anda menipu diri sendiri, Umar. Anda kira Abdu Manaf (keluarga besar Muhammad) akan membiarkan anda bebas berjalan di bumi ini jika sudah membunuh Muhammad? Tidak kah lebih baik anda pulang dahulu menemui keluargamu dan luruskan mereka!”.
“keluarga saya yang mana??” tanya Umar.
Nu’aim menjawab “ Ipar dan sepupumu Sa’id bin Zaid bin Amr dan adikmu Fatimah binti Khattab. Mereka sudah masuk Islam. Mereka lah yang harus engkau hadapi”.
Umar berbalik badan dengan darah mendidih menyusul saudara2nya itu. Ketika sampai dirumah adiknya, dia mendengar adiknya sedang mengaji, maka benar lah apa yang dikatakan Nu’aim tadi, bahwa adiknya telah murtad dari agama leluhur.
dia menerobos masuk dan mengamuk membabi buta dan memukul saudaranya Sa’id dan adiknya Fatimah sehingga kepala adiknya itu berdarah. Melihat kepala adiknya berdarah akibat pukulannya itu, Umar merasa menyesal dan menyadari apa yang telah diperbuatnya.
Katanya “ kemarikan kitab yang kau baca tadi, akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad kepada kalian” lalu dibacanya apa yang dibaca adiknya tadi, “Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!”.
Rupanya didalam rumah itu ada Khabbab yang ketika Umar datang tadi, dia lantas bersembunyi. Seketika mendengar perkataan Umar itu, dia keluar dan berkata “ Umar, demi Allah saya sangat mengharap Allah akan memberi kehormatan kepadamu dengan ajaran Rasul-NYA ini.
Kemarin saya mendengar Muhammad berdo’a : ‘Allahuma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau dengan Umar bin Khattab’, berhati-hati lah, Umar!”. Mendengar itu, Umar berkata : “Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad untuk masuk Islam”.
Dalam hal ini, ada sebuah riwayat dari sumber yang paling terkenal yang didasarkan kepada Umar sendiri, yang menurut pengamatan para ahli pengamat sejarah Islam lebih masuk akal dan cenderung menyetujui riwayat ini tentang masuknya Umar kepada Islam.
Yaitu ketika Umar secara tidak sengaja melihat Muhammad yang sedang bersembahyang di Ka’bah dengan menghadapkan mukanya ke arah Syam, sehingga Ka’bah berada diantara dia dan Syam.
Tempat salatnya di antara dua sudut hajar aswad dengan sudut Yamami. Kata Umar “Sungguh aku sangat mengharap malam ini dapat menguping Muhammad sampai aku dapat mendengar apa yang dikatakannya. Karena khawatir dia dapat melihatku, maka aku datang dari arah Hijr. Aku masuk ke balik kain Ka’bah dan berjalan pelan-pelan kehadapannya; antara aku dan dia dibatasi kain Ka’bah. Aku mendengar dia membaca Al-Qur’an, hatiku sungguh tersentuh dan aku menangis, Islam telah merasuk hatiku.”
Bila kita perhatikan pribadi dan psikologi Umar, maka dapat kita lihat keunggulan Umar sehingga dia pantas diberi kehormatan untuk memperkuat Islam. Yaitu :
1. Dia asli dari masyarakatnya sendiri, sangat fanatik terhadap mereka, ingin sekali melihat ketertiban dan kedudukan kota mereka yang kuat.
2. Mengenai keyakinannya, terlihat dari kemarahannya kepada saudaranya Said bin Amr dan adiknya Fatimah yang meninggalkan agama masyarakatnya untuk mengambil agama dari yang lain, hal ini tidak sesuai dengan wataknya yang ingin melihat ketertiban umum serta kedudukan Mekah yang kuat di mata semua orang Arab.
3. Sungguh pun demikian, Umar memiliki hati yang lembut, berperasaan halus dalam arti keadilan. Seperti kesedihannya ketika melihat Umm Abdullah binti Abi Hismah hendak pergi meninggalkan Mekah dan ketika melihat kepala Fatimah berdarah karena perbuatannya.
4. Lamanya Umar menimbang-nimbang dalam kesendiriannya ketika hendak membunuh Muhammad. Ia memikirkan segala hal, akibatnya dan kehati-hatiannya dalam melakukan tindakan itu sebelum mengambil keputusan.
5. Tersentuhnya hati Umar ketika mendengar Al-Qur’an dibacakan, meluluhkan hatinya yang keras dan beringas. Namun ketika melihat perpecahan masyarakatnya, kebenciannya kembali timbul kepada Muhammad dan kembali ia ingin membunuhnya. Kemungkinan karena ia pernah mendengarkan Muhammad membaca Al-Qur’an ketika salat di Ka’bah dahulu, karenanya ia ingin sekali membaca surat Ta-ha yang dibaca adik perempuannya ketika hatinya menjadi luluh saat melihat kepada Fatimah berdarah karena kekhilafannya.
Sifat-sifat demikian ini dapat menterjemahkan kepada kita mengapa ia kemudian masuk Islam dan memperkuat Islam dengan dirinya. Dan dikemudian hari dia diberi gelar Al-Faruq atau PEMISAH. yang namanya akan disebut-sebut orang dengan penuh penghargaan, dengan penuh rasa hormat sampai akhir zaman.
Sedangkan Abu Jahal tidak mau memperhatikan, tidak mau beriman atau mempercayai ajaran dan agama Muhammad, salah satu alasannya adlah karena Keluarga Abdu-Syams (keluarga Abu Jahal) dengan keluarga Abdu-Manaf (keluarga Muhammad) terjadi suatu persaingan yang keras sebagai suatu keluarga besar. Kedua keluarga ini adalah pemimpin bagi kabilah2 di kota Mekah masa itu, bahkan (sebagai istilah nya) mereka adalah sebuah keluarga ahli waris dalam menjaga dan merawat Ka’bah. Rasa malu bila berbai’at dengan Muhammad berarti menjadi pengikutnya dan berdiri di bawah Panji Islam yang dipimpin Muhammad, keluarga Abdu-Syams akan menjadi keluarga yang berada dibawah keluarga Abdu-Manaf, dan hal itu sangat memalukan bagi Abu Jahal. Sementara keinginan Abu Jahal adalah menjadi pemimpin seluruh Kabilah di Arab terutama Mekah dan bukan menjadi prajurit Muhammad.
Demikianlah Allah telah memberikan Hidayah-NYA kepada Umar bin Al Khattab dan bukan kepada Abu Jahal.
Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr wr
=FKSG=
mantap semangat teruslah menyebarkan kebaikan sehingga kejahatan tidak ada tempat untuk berdiri di muka bumi ini
BalasHapus