![]() |
| Lokasi Perjanjian Hudaibiyah - Foto Dakwatuna.com |
Sejak tahun pertama Hijrah, Nabi sudah mengubah kiblatnya dari al-Masjid’l-Aqsha ke al-Masjid’l-Haram. Sekarang kaum Muslimin menghadap ke Baitullah yang dibangun oleh Ibrahim di Mekah, dan yang kemudian bangunan itu dibaharui lagi tatkala Nabi masih muda belia.
Enam tahun lamanya sudah sejak Nabi
dan sahabat-sahabatnya hijrah dari Mekah ke Medinah. Selama itu mereka
terus-menerus bekerja keras, terus-menerus dihadapkan kepada peperangan, kadang
dengan pihak Quraisy, adakalanya pula dengan pihak Yahudi. sementara itu
Islampun makin tersebar luas, makin kuat dan ampuh pula.
Muslimin Mengumumkan Naik Haji
Pada suatu pagi bila mereka sedang
berkumpul di mesjid, tiba-tiba Nabi memberitahukan kepada mereka bahwa ia telah
mendapat ilham dalam mimpi hakiki, bahwa insya Allah mereka akan memasuki
Mesjid Suci dengan aman tenteram, dengan kepala dicukur atau digunting tanpa
merasa takut.
Begitu mereka mendengar berita
mengenai mimpi Rasulullah itu, serentak mereka mengucap; Alhamdulillah. Secepat
kilat berita ini telah tersebar ke seluruh penjuru Medinah. Tetapi bagaimana
caranya memasuki Masjid Suci itu? Dengan perangkah? Ataukah orang-orang Quraisy
secara paksa harus dikosongkan? Atau barangkali Quraisy dengan tunduk menyerah
membukakan jalan?
Tidak. Tak ada pertempuran, tak ada
perang. Bahkan Nabi mengumumkan kepada orang ramai supaya pergi menunaikan
ibadah haji dalam bulan Zulhijah yang suci.
Dikirimnya utusan-utusan kepada
kabilah-kabilah yang bukan dari pihak Muslimin, dianjurkannya mereka supaya
ikut bersama-sama pergi berangkat ke Baitullah, dengan aman, tanpa ada
pertempuran.
Jika Quraisy masih juga bersikeras
hendak memeranginya dalam bulan suci, hendak melarang orang Arab pergi ke
Mesjid Suci, maka takkan ada orang-orang Arab yang mau mendukung sikap Quraisy
atau akan membantu mereka melawan kaum Muslimin.
Dua Perkemahan Bertemu
Nabi mengumumkan kepada semua orang
supaya berangkat menunaikan ibadah haji. Kepada kabilah-kabilah di luar
Muslimin juga dimintanya berangkat bersama-sama. Tetapi ada juga dari
kabilah-kabilah di luar Muslimin yang masih menunda-nunda, seperti Juhainah dan
Muzainah.
Pada hari Senin dalam bulan
Zulkaedah tahun ke-6 H sebagai salah satu bulan suci, Nabi berangkat dengan
rombongan dari kaum Muhajirin dan Anshar, serta beberapa kabilah Arab yang mau
menggabungkan diri. Nabi menunjuk Numailah bin Abdullah al-Laitsi sebagai imam
sementara di Madinah.
Jumlah mereka yang berangkat ketika
itu sebanyak 1400 orang. Nabi membawa binatang kurban terdiri dari 70 ekor
unta, dengan mengenakan pakaian ihram, dengan maksud supaya orang mengetahui,
bahwa ia datang bukan mau berperang, melainkan khusus hendak berziarah dan
mengagungkan Baitullah.
Rombongan pun sampai di
Dzu’l-Hulaifa, sebuah desa yang berjarak enam atau tujuh mil jauhnya dari
Medinah. Rombongan menyiapkan kurban dan mengucapkan talbiah.
Binatang kurban pun dilepaskan dan
disebelah kanan masing-masing hewan itu diberi tanda. Tiada seorang juga dari
rombongan haji itu yang membawa senjata selain pedang tersarung yang biasa
dibawa orang dalam perjalanan. Isteri Nabi saw yang ikut serta dalam perjalanan
ini ialah Ummu Salamah.
Berita tentang Muhammad saw dan
rombongannya serta tujuan kepergiannya hendak menunaikan ibadah haji itu sudah
sampai juga kepada Quraisy. Akan tetapi dalam hati mereka timbul rasa kuatir.
Masalahnya buat mereka adalah sebaliknya. Mereka menduga kedatangannya hanya
sebagai suatu tipu muslihat saja. Dengan begitu Muhammad mau menipu supaya
dapat memasuki Mekah, karena mereka dan golongan Ahzab pernah pula terlarang
tak dapat memasuki Medinah. Apa yang mereka ketahui tentang lawan mereka yang
hendak memasuki Tanah Suci melakukan Umrah itu serta apa yang sudah diumumkan
di seluruh jazirah bahwa sebenarnya mereka hanya didorong oleh rasa keagamaan
hendak menunaikan kewajiban yang sudah juga diakui oleh seluruh orang Arab,
tidak akan dapat mengubah keputusan Quraisy hendak mencegah Muhammad memasuki
Mekah; betapa pun besarnya pengorbanan yang harus mereka lakukan guna
melaksanakan keputusan mereka itu.
Oleh karena itu sebuah pasukan
tentara yang barisan berkudanya saja terdiri dari 200 orang, oleh Quraisy
segera dikerahkan dan pimpinannya diserahkan kepada Khalid bin’l-Walid dan
‘Ikrima bin Abi Jahl. Pasukan ini maju ke depan supaya dapat merintangi
Muhammad masuk Ibukota (Mekah). Mereka maju terus sampai dapat bermarkas di Dhu
Tuwa.
Sebaliknya rombongan Nabi meneruskan
perjalanannya sampai di ‘Usfan, sebuah desa yang terletak antara Mekah dan
Medinah, sekitar 60 km dari Mekah. Di sana Nabi bertemu dengan Bisyr bin Sufyan
al-Ka’bi dari suku Banu Ka’b. Nabi menanyakan kalau-kalau orang itu mengetahui
berita-berita sekitar Quraisy.
“Mereka sudah mendengar tentang
perjalanan tuan ini,” jawabnya.
“Lalu mereka berangkat dengan
mengenakan pakaian kulit harimau. Mereka berhenti di Dhu Tuwa dan sudah
bersumpah bahwa tempat itu sama-sekali tidak boleh tuan masuki. Sekarang Khalid
bin’l-Walid dengan pasukan berkudanya sudah maju terus ke Kira’l-Ghamim.”
Kira’l-Ghamim adalah sebuah wadi di
depan ‘Usfan, sekitar 8 mil (± 12 km).
“Celaka Quraisy!” kata Muhammad.
“Mereka sudah lumpuh karena
peperangan. Apa salahnya kalau mereka membiarkan saya berhubungan dengan
orang-orang Arab yang lain itu. Kalaupun orang-orang Arab itu sampai
membinasakanku, itulah yang mereka harapkan, dan jika Allah memberi kemenangan
kepadaku, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Jika mereka tidak masuk
Islam, mereka pasti akan berperang, sebab mereka mempunyai kekuatan. Demi
Allah, Quraisy jangan salah. Sesungguhnya aku akan terus memperjuangkan apa
yang diutuskan Allah kepadaku sampai nanti Allah memberikan kemenangan atau
sampai leher ini putus terpenggal.”
Muhammad saw Memelihara perdamaian
Pandangan Nabi sangat jauh,
siasatnya lebih dalam dan lebih matang. Beliau berseru kepada orang banyak:
“Siapa yang dapat membawa kita ke jalan lain yang tidak mereka lalui?”
Kemudian ada seorang laki-laki dari
suku Aslam yang bersedia membawa rombongan Nabi melalui jalan lain yang
berliku-liku antara batu-batu karang yang curam yang sangat sulit dilalui. Kaum
Muslimin merasa sangat letih menempuh jalan itu.
Akhirnya mereka sampai juga ke
sebuah jalan datar pada ujung wadi. Jalan ini mereka tempuh melalui sebelah
kanan yang akhirnya keluar di Tsaniyatul-Mirar, jalan menurun ke Hudaibiya di
sebelah bawah kota Mekah.
Setelah pasukan Quraisy melihat apa
yang dilakukan Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu, merekapun cepat-cepat
memacu kudanya kembali ke tempat semula dengan maksud hendak mempertahankan
Mekah bila diserbu oleh pihak Muslimin.
Ketika kaum Muslimin sampai di
Hudaibiya. Al-Qashwa’ (unta milik Nabi) berlutut. Kaum Muslimin menduga ia
sudah terlalu lelah.
Tetapi Nabi berkata: “Tidak. Ia
(unta itu) ditahan oleh yang menahan gajah dulu dari Mekah. Setiap ada ajakan
dari Quraisy dengan tujuan mengadakan hubungan kekeluargaan, tentu saya
sambut.”
Kemudian dimintanya orang-orang itu
supaya turun dari kendaraan. Tetapi mereka berkata: “Rasulullah, kalaupun kita
turun, di lembah ini tak ada air.”
Mendengar itu Nabi mengeluarkan
sebuah anak panah dari tabungnya lalu diberikannya kepada Najiyah bin Jundab
supaya dibawa turun kedalam salah sebuah sumur yang banyak tersebar di tempat
itu. Bila anakpanah itu ditancapkan ke dalam pasir pada dasar sumur ketika itu
airpun memancar. Orang baru merasa puas dan merekapun turun dari kendaraan.
Pihak Quraisy di Mekah selalu
mengintai. Lebih baik mereka mati daripada membiarkan Muhammad memasuki wilayah
mereka dengan cara kekerasan sekalipun.
Kedua pihak masing-masing sekarang
sedang memikirkan langkah berikutnya. Nabi sendiri tetap berpegang pada langkah
yang sudah digariskannya sejak semula, mengadakan persiapan untuk ‘umrah, yaitu
suatu langkah perdamaian dan menghindari adanya pertempuran; kecuali jika pihak
Quraisy menyerangnya atau mengkhianatinya; tak ada jalan lain iapun harus
menghunus pedang.
Utusan Quraisy kepada Muhammad saw
Budail b. Warqa’ dari suku
Khuza’a
Sebaliknya Quraisy, mereka masih
maju-mundur. Terpikir oleh mereka mengutus beberapa orang terkemuka dari
kalangan mereka; satu sisi untuk menjajagi kekuatannya dan sisi lain untuk
merintangi jangan sampai masuk Mekah. Dalam hal ini yang datang menemui Nabi
ialah Budail b. Warqa’ dari suku Khuza’a. Oleh mereka ditanyakan,
gerangan apa yang mendorongnya datang. Setelah dalam pembicaraan itu mereka
merasa puas, bahwa ia datang bukan untuk berperang, melainkan hendak berziarah
dan hendak memuliakan Rumah Suci, merekapun pulang kembali kepada Quraisy.
Mereka juga ingin meyakinkan Quraisy, supaya orang itu dan sahabat-sahabatnya
dibiarkan saja mengunjungi Rumah Suci. Akan tetapi mereka malah dituduh dan
tidak diterima baik oleh Quraisy. Dikatakannya kepada mereka: “Kalau kedatangannya
tidak menghendaki perang, pasti ia takkan masuk kemari secara paksa dan kitapun
takkan menjadi bahan pembicaraan orang.”
Hulais bin Alqamah pemimpin Ahabisy
Kemudian Quraisy mengutus orang lain
dari golongan Ahabisy. Ahabisy adalah perkampungan di pegunungan. Mereka
adalah sebuah kabilah Arab ahli pelempar panah. Warna kulit mereka hitam
sekali. Maka berangkatlah Hulais bin Alqamah pemimpin Ahabisy menuju ke
perkemahan Muslimin.
Tatkala Nabi melihatnya ia datang,
dimintanya supaya ternak kurban itu dilepaskan di depan matanya, supaya dapat
melihat dengan mata kepala sendiri adanya suatu bukti yang sudah jelas, bahwa
orang-orang yang oleh Quraisy hendak diperangi itu tidak lain adalah
orang-orang yang datang hendak berziarah ke Rumah Suci.
Hulais dapat menyaksikan sendiri
adanya ternak kurban yang tujuh puluh ekor itu, mengalir dari tengah wadi
dengan bulu yang sudah rontok. Terharu sekali ia melihat pemandangan itu. Dalam
hatinya timbul rasa keagamaannya. Ia yakin bahwa dalam hal ini pihak Quraisylah
yang berlaku kejam terhadap mereka, yang datang bukan ingin berperang atau
mencari permusuhan.
Sekarang ia kembali kepada Quraisy
tanpa menemui Muhammad lagi. Diceritakannya kepada mereka apa yang telah
dilihatnya. Tetapi begitu mendengar ceritanya itu, Quraisy naik pitam.
“Duduklah,” kata mereka kepada
Hulais. “Engkau ini Arab badui yang tidak tahu apa-apa.”
Mendengar itu Hulais juga jadi
marah. Diingatkannya bahwa persekutuannya dengan Quraisy itu bukan untuk
merintangi orang dari Rumah Suci, siapa saja yang datang berziarah, dan tidak
semestinya mereka akan mencegah Muhammad dan beberapa orang Ahabisy yang datang
dengan dia ke Mekah. Takut akan akibat kemarahannya itu, Quraisy mencoba
membujuknya kembali dan memintanya supaya menunda sampai dapat mereka pikirkan
lebih lanjut.
‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi
Kemudian terpikir oleh Quraisy
hendak mengutus orang yang bijaksana dan dapat mereka yakinkan
kebijaksanaannya. Hal ini mereka bicarakan kepada ‘Urwa ibn Mas’ud ath-Thaqafi.
Menanggapi pendapatnya mengenai sikap mereka yang keras dan memperlakukan tidak
layak terhadap kepada utusan yang sebelumnya, mereka meminta maaf kepada ‘Urwa.
Setelah mereka minta maaf dan sekaligus menegaskan bahwa mereka sangat menaruh
kepercayaan kepadanya dan yakin sekali akan kebijaksanaan dan pandangannya yang
baik, ia pun berangkat menemui Nabi.
Ketika Urwah bin Mas’ud tiba di
tempat Rasululllah, dia duduk di depan beliau.
Dia berkata, “Hai Muhammad, engkau
kumpulkan orang banyak, kemudian membawa mereka kepada keluargamu untuk
membunuh mereka? Orang-orang Quraisy telah keluar bersama wanita-wanita dan
anak-anak mereka dengan memakai kulit-kulit harimau. Mereka bersumpah tidak
akan mengizinkanmu masuk ke tempat mereka untuk selama-lamanya. Demi Allah,
dengan mereka , sepertinya kami lihat pengikut kalian akan menyingkir darimu
besok pagi.”
Abu Bakar ash-Shiddik yang duduk di
belakang Rsululah saw berkata, “Isaplah kelentit Lata. Kami akan menyingkir
dari beliau?”
Urwah bertanya, “Siapa orang ini,
hai Muhammad!”
Beliau menjawab, “Dia anak Abu
Quhafah.”
Urwah berkata, “Demi Alah, jika aku
tidak berhutang budi padanya, pasti aku balas ucapannya dengan ucapan yang
lebih menyakitkan, namun perkataanku ini sudah cukup.”
Kemudian Urwah berusaha memegang
jenggot Rasulullah saw. Al-Mughirah bin Syu’bah yang berdiri di depan
Rasulullah saw dengan memegang pedang memukul tangan Urwah yang hendak memegang
jenggot Rasuullah saw sambil bekata, “Tahan tanganmu dari wajah Rasulullah saw
sebelum pedang ini mengenaimu.”
Urwah berkata, “Celaka engkau,
betapa kasarnya engkau!”
Rasulullah saw tersenyum.
Urwah bertanya, “Siapa orang ini,
hai Muhammad?”
Beliau menjawab, “Dia anak
saudaramu, yaitu al-Mughirah ibn Syu’bah.”
Urwah berkata, “Engkau pengkhianat,
aku baru saja membersihkan aibmu kemarin.”
Mughirah bin Syu’bah bertindak
terhadap Urwah meskipun ia sadar bahwa sebelum ia masuk Islam, ‘Urwah pernah
menebuskan tiga belas diat atas beberapa orang dari Bani Malik yang telah
dibunuh oleh Mughirah.
Kemudian ‘Urwah mendapat keterangan
dari Nabi sama seperti yang juga diberikan kepada utusan-utusan Quraisy
sebelumnya, bahwa kedatangannya bukan hendak berperang, melainkan hendak
mengagungkan Rumah Suci, menunaikan kewajiban kepada Allah.
Sebelum Urwah beranjak dari tempat
Rasulullah saw ia melihat apa yang diperbuat para sahabat terhadap beliau. Jika
beliau mengambil wudhu, maka sahabat-sahabatnya memperebutkan bekas air wudhu
beliau. Jika beliau meludah maka mereka memperebutkannya, dan jika mereka
melihat ada rambut beliau yang jatuh, cepat-cepat pula mereka mengambilnya.
Setelah Urwah berada kembali di
tengah-tengah Quraisy ia berkata, “
“Saudara-saudara, saya sudah pernah
bertemu dengan Kisra, dengan Kaisar dan dengan Negus di kerajaan mereka
masing-masing. Tetapi belum pernah saya melihat seorang raja dengan rakyatnya
seperti Muhammad dengan sahabat-sahabatnya itu. Sungguh aku lihat kaum yang
tidak akan menyerahkannya bagaimanapun juga. Oleh karena itu, pikirkanlah
kembali baik-baik.”
Kemudian Rasulullah saw mengutus
Khirasy bin Umaiyyah al-Khuzai untuk menemui orang-orang Quraisy. Akan tetapi
unta utusan itu oleh mereka ditikam. Bahkan utusan itu hendak mereka bunuh
kalau tidak pihak Ahabisy segera mencegah dan utusan itu dilepaskan.
Kemudian sejumlah orang Quraisy
malam-malam keluar dan melempari kemah Nabi dengan batu. Jumlah mereka ini
sampai empatpuluh atau limapuluh orang, dengan maksud hendak menyerang
sahabat-sahabat Nabi. Tetapi mereka ini tertangkap basah lalu di bawa kepada
Nabi. Tahukah kita apa yang dilakukan Nabi? Mereka itu dimaafkan semua dan
dilepaskan, sebagai suatu tanda bahwa Nabi ingin menempuh jalan damai serta
ingin menghormati bulan suci, jangan ada pertumpahan darah di Hudaibiya, yang
juga termasuk daerah suci Mekah.
Mengetahui hal ini pihak Quraisy
terkejut sekali. Segala bukti yang hendak dituduhkan bahwa Muhammad bermaksud
memerangi mereka, jadi gugur samasekali. Mereka yakin kini bahwa semua tindakan
permusuhan dari pihak mereka terhadap Muhammad, oleh pihak Arab hanya akan
dipandang sebagai suatu pengkhianatan kotor saja. Jadi berhak sekalilah
Muhammad mempertahankan diri dengan segala kekuatan yang ada. (bersambung)... sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar