Sabtu, 26 September 2015

Inspirasi dari seorang Sahabat.

Kisah ini sudah belasan tahun berlalu. sekitar tahun 2000-an. Ketika itu aku dan sahabatku dalam perjalanan dari Bekasi menuju Blok M. Sebenarnya tidak ada yang spesial dalam perjalananku ini, sama seperti perjalanan2 yang sering aku lakukan. Hanya saja ada satu hal yang menarik dari sosok sahabatku ini. Sebelum berangkat, ternyata dia sudah menyiapkan segenggam uang recehan (limaratusan dan seribuan). Tiap kali ada pengamen, pengemis, dan orang minta sumbangan dengan berbagai macam cara didalam bis kota, sahabatku ini senantiasa “memberi” dengan uang yang telah disiapkanya.

Sepintas tidak ada yang aneh dengan apa yang dilakukan sahabatku. Tapi bagiku ini adalah sesuatu yang menarik. Aku ingin mengetahui, apa motifasi dia dengan apa yang dilakukanya itu. Maka mulailah aku lemparkan pertanyaan pendek kepadanya, Kenapa sih setiap kali ada pengamen dan pengemis, ente selalu kasih uang?, emangnya gak boleh kalau pengin beramal, jawabnya pendek. Tepat seperti dugaanku, maka mulailah aku berargumentasi, bahwa beramal  haruslah tepat sasaran. Hari ini banyak lembaga sosial yang siap menampung dan menyalurkan zakat, infak dan sedekah kita kepada yang berhaq dan membutuhkan. Dan itu sudah dikelola dengan profesional, serta akuntabilitasnya terjamin. Dengan sedikit Promosi, Aku ceritakan kepadanya beberapa Nama Lembaga Sosial yang telah aku kenal. Dan yang lebih penting lagi, apa yang ente lakukan, secara tidak sadar justru menumbuhsuburkan mental malas dengan praktek “Pengemis dan Pengamen  Jalanan”. Mental mereka akan semakin malas, karena hanya dengan mengemis dan mengamen, pendapatan mereka sudah cukup lumayan, dan masih banyak lagi argumentasi yang aku sampaikan kepada sahabatku ini.

Dengan tenang, semua pendapat dan omonganku dia dengarkan dengan seksama. Untuk kemudian, dia berkomentar singkat. “Apa yang ente bicarakan dari tadi, bisa benar, bisa juga salah. Bagi ane, ketika sudah berniat untuk beramal, maka ane mesti fokus pada terlaksananya niat tersebut. Ane tidak akan terlalu ambil pusing dengan apa yang terjadi setelah niat itu terealisasi dalam amal perbuatan. Apakah amal ane akan disalahgunakan oleh yang bersangkutan, atau justru akan membuat mental malas, atau apapun itu, ane gak ada urusan. Ane yakin Allah SWT, juga sudah memiliki perhitungan tersendiri dengan apa yang mereka perbuat. Dan ane yakin perhitungan itu, tidak sedikitpun berpengaruh pada perhitungan amal ane..

Jleb, hari itu aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari sahabatku ini. betapa sesungguhnya Niat kita dalam beramal sholeh, semestinya tidak terpengaruh dengan “kelakuan” obyek/sasaran amal kita. Fokus kita setelah adanya niat tersebut adalah bagaimana niat tersebut bisa terealisasi dalam amal nyata. Tentunya hanya dengan berharap Ridho Allah semata. Itu saja tidak lebih, tidak kurang. Adapun terhadap Obyek/Sasaran amal kita, kita berhusnudzon saja, semoga mereka bisa berlaku amanah terhadap apa yang hari ini telah kita percayakan kepada mereka. Wallahu’alam   (semangat beramal sholeh)

Bekasi, 10 Dzulhijjah 1436H
Pondok itu adalah Milik kita Semua..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar